Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
09 juli 2013 02:10
Belimbur Erau Meriah, Bupati pun Basah
Ritual Jelang Penutupan Pesta Erau
Tenggarong, Kaltim - Jelang penutupan pesta Adat Erau Kutai Kartanegara (Kukar) 2013 yang bertajuk Erau International Folklore and Art Festival (EIFAF) 2013, dilakukan prosesi Belimbur atau siraman pada Minggu (7/7) kemarin. Karuan saja, sepanjang hari kemarin, Kota Raja Tenggarong menjadi kota basah ria karena air Belimbur ribuan warga. Apalagi cuaca juga hujan dan mendung berkepanjangan.
Prosesi Belimbur tersebut didahului upacara adat dilakukan Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, HAM Salehoeddin II, setelah menerima Air Tuli dari Kutai Lama. Sultan kemudian naik ke Rangga Titi, sebuah balai-balai dari bambu kuning, lalu memercikan Air Tuli tersebut ke tubuhnya. Selanjutnya menggunakan mayang pinang, kembali memercikan Air Tuli itu ke sekelilingnya. Setelah itu, barulah Belimbur boleh dilakukan.
“Belimbur kali ini berbeda. Karena kami semua basah kuyup disiram ribuan warga,” ucap Bupati Kukar, Rita Widyasari, dengan wajah berseri-seri.
Belimbur pada jelang akhir Erau tahun ini berbeda dari sebelumnya bagi Bupati Rita dan pejabat lainnya. Lantaran Rita bersama sejumlah petinggi daerah ini, berjalan kaki melintasi sejumlah ruas jalan dari Jl Pangeran Diponegoro, kemudian Jl S Parman, Jl Monumen Pancasila dan masuk ke Pendopo Odah Etam, Tenggarong. Karena ini, Rita dan sejumlah pejabat ikut menjadi sasaran siraman warga.
“Tidak masalah semuanya basah. Karena Belimbur ini budaya unik yang akan terus dilestarikan di Kukar. Bermakna air siraman itu membersihkan jiwa dan raga kita. Sehingga Belimbur jangan dilakukan secara berlebihan atau menyakiti. Jangan pula menggunakan air kotor,” ucap Rita.
Memang imbauan sudah disampaikan Pemkab Kukar maupun pihak panitia secara maksimal, agar proses Belimbur dilakukan warga secara tertib. Bahkan sudah ditegaskan bahwa kawasan Belimbur dibatasi dari ruas Jl Mangkurawang, Jl Pangeran Diponegoro, Jl Jenderal Sudirman, Jl KH Ahmad Muksin dan Jl Wolter Monginsidi, hanya saja warga tetap melakukan siraman di wilayah lainnya.
“Saya berharap supaya tradisi Belimbur yang dilakukan leluhur etam dulu, terus terlaksana lestari dan semakin tertib,” tambah bupati yang juga melakukan siraman dengan para pejabat setibanya di Pendopo Odah Etam.