Close
 
Selasa, 26 Mei 2026   |   Arbia', 9 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 2.161
Hari ini : 25.589
Kemarin : 23.907
Minggu kemarin : 221.971
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

30 sepember 2007 00:18

Situasi Myanmar Makin Tak Tentu

Situasi Myanmar Makin Tak Tentu

Yangon– Situasi Myanmar semakin tak menentu. Junta militer  meningkatkan tekanannya kepada pengunjuk rasa. Mereka bertindak cepat membubarkan kerumunan massa di jalan-jalan sebelum sempat melakukan aksi.

Para serdadu itu juga menduduki biara-biara Buddha yang diduga menjadi markas para pengunjuk rasa. Untuk menyembunyikan tindakan keras tersebut dari pantauan dunia internasional, junta militer memutus akses internet.

Saksi mata melaporkan, di Yangon, tidak kurang dari 2.000 orang yang berkerumun dibubarkan. Petugas keamanan mengeluarkan tembakan ke udara agar massa meninggalkan jalan-jalan utama.

Mereka yang mencoba bertahan diseret, dinaikkan ke atas truk militer, dan dibawa pergi entah ke mana. Reuters melaporkan, polisi dan tentara menembaki kerumunan massa yang menolak meninggalkan jalan setelah diberi tenggat sampai sepuluh menit.  Petugas keamanan juga berusaha mencegah para biksu bergabung dengan warga sipil yang  berunjuk rasa. Caranya dengan mengepung biara-biara Buddha.

Junta militer mengumumkan lima biara Buddha paling besar sebagai ’’zona yang tidak boleh dikunjungi’’. Termasuk di antaranya Biara Shwedagon dan Sule, yang menjadi pusat aksi demo selama beberapa hari terakhir. Gerbang biara-biara dikunci dari luar.  Digembok. Semua akses jalan menuju ke tempat suci itu  diblokade dengan kawat berduri.  Truk-truk bermuatan penuh tentara dengan perlengkapan untuk menghalau unjuk rasa menyerang biara-biara Buddha di luar kota Yangon. Mereka memukul dan menahan belasan biksu.

Seorang pekerja sosial menyaksikan para serdadu itu juga memukuli para biksu yang sedang tidur. ’’Saya benar-benar benci pemerintah. Padahal, biksu-biksu itu tidak berbuat apa pun selain berdoa dan membantu warga,’’ kata pekerja berusia 30 tahun yang mengaku melihat tindakan kasar tersebut dari tempatnya bekerja.

Salah satu biara yang diserang itu berada di kota Okkalapa. Dari biara itu, serdadu menggelandang sekitar 100 biksu. Setidaknya delapan orang dilaporkan tewas ketika berusaha mencegah agar para biksu itu tidak dibawa pergi. Beberapa foto yang berhasil dikirim ke luar Myanmar menunjukkan genangan darah di sekitar biara.

Seorang diplomat asing mengungkapkan bahwa junta militer Myanmar mengaku sudah berhasil mengendalikan para biksu. ’’Kami sekarang fokus untuk menangani pengunjuk rasa dari kalangan sipil,’’ kata diplomat yang menolak disebutkan namanya, menirukan pernyataan resmi pemerintah Myanmar.

Strategi yang diterapkan militer tersebut terbukti menyulitkan pengunjuk rasa dari warga sipil. Mereka harus kucing-kucingan dengan petugas keamanan agar bisa mendekat ke biara-biara.

Menurut mereka, para biksu sudah menjalankan tugasnya dengan mengawali aksi unjuk rasa besar-besaran sejak 19 September lalu.

’’Kini kami harus melanjutkan gerakan ini,’’ kata pemimpin aksi dari kalangan mahasiswa yang bergerak mendekati Pagoda Sule.

Sumber : Batam Pos
Kredit foto : file.shanghaidaily.com


Dibaca : 3.193 kali.

Tuliskan komentar Anda !