Minggu, 6 September 2026 |Isnain, 23 Rab. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 53
Hari ini
:
6.291
Kemarin
:
26.946
Minggu kemarin
:
32.264.566
Bulan kemarin
:
43.463.948
Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
02 januari 2014 06:33
Ada Lemper Raksasa di Ritual Rebopungkasan Bantul
Lemper raksasa diarak masuk Balai Desa Wonokromo (Foto: Trasmara)
Bantul, Yogyakarta – Menyebut Rebopungkasan di Wonokromo, Pleret, Bantul berkonotasi menyeberangi tempuran sungai Opak dan Gajah Wong sambil cincing celana sekaligus mengeluarkan kata-kata kotor. Tapi itu dulu puluhan tahun silam. Sekarang usai dibangunnya jembatan, acara nyabrang sungai di Rebopungkasan sudah tidak ada lagi. “Banyak menimbulkan kemusyrikan,” kata Kepala Desa Wonokromo H. Moh Guswanto dihadapan ribuan pengunjung Rebopungkasan, Selasa (31/12) malam.
Sekarang prosesi Rebopungkasan berujudngarak lemper raksasa dan berebut lemper yang dibagikan olehjajaran pamong desa Wonokromo. Ribuan orang menyaksikan prosesi ngarak lemper raksasa dari Masjid Karanganom – Balai Desa Wonokromo dalam acara adat Rebopungkan ini. Lemper seberat 200 kg dengan panjang 2 meter ini dikawal oleh Bergodo Prajurit Kraton Ngayogyakarta, prajurit berkuda, dan prajurit wanita.
Lemper raksasa itu kemudian diletakan di pendopo balai desa diiringi lantunan doa oleh Kepala Desa Wonokromo H. Moh Guswanto. Lemper raksasa kemudian dipotong dengan menggunakan pedang oleh Dandim Bantul Letkol Dedy Setiawanmenjadi dua. Sementara lemper ukuran kecil yang dibawa dengan jodang di lempar ke tengah masyarakat. Sebuah gunungan dari bahan kacang panjang, lemper, kobis, dan wortel ikut dirayah oleh masyarakat.
“Rebopungkasan tahun 2013 memiliki keistimewaan karena dalam satu tahun dilakukan dua kali yaitu pada Januari lalu serta malam ini bertepatan dengan malam tahun baru,” kata Ardiansyah, Sekretaris Panitia Rebopungkasan yang ditemui Jogjatrip.
Beberapa orang yang ditemui mengatakan sangat beruntung mendapat lemper yang dilempar. Lempersatu yang diperoleh dibagi-bagi pada teman-temannya. Jika mendapatkan sayuran yang dirayah dari gunungan akan disimpan. “Kalau usaha dagang biasanya akan laris,” kata Ny. Murdo yang datang dari Kulon Progo.
Ritual Rebopungkasan diadakan tiap Rabu di akhir bulan Safar. Para kyai di mushola masing-masing mengadakan majlis doa tolak bala. Setelah itu kemudian makan makanan khas berupa lemper. Oleh para kyai, lemper sengaja dibagikan pada saat Rebopungkasan yang mengandung nilai simbolik yaitu kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Semula perayaan Rebopungkasan yang diadakan di tempuran sungai Opak dan Gajah Wong banyak madhorotnya yaitu menumbuhkan kemaksiatan, maka Rebopungkasan dipindah ke Lapangan Wonokromo. “Dulu waktu belum ada jembatan, orang-orang menyeberang sungai opak dengan mencincingkan celana. Dan orang-orang diseberang sungai memberi penerangan dengan senter dan mengeluarkan kata-kata kotor,” papar Kamdi penjaga titipan motor yang asli Wonokromo. *** (Teguh R Asmara)