Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
04 februari 2014 03:38
Disbudpar dan BPNB Temu Budaya
Tidoere, Malut - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Tidore Kepulauan, bekerja sama dengan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Ambon, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menggelar Temu Budaya Maluku Utara yang dipusatkan di aula SMA N 1 Tidore, Kamis (19/12).
Kegiatan ini melibatkan masyarakat pendukung kebudayaan, mulai dari Maba, Ternate, Bacan, Weda, dan Patani yang semuanya berjumlah 150 orang.
Kepala Disbudpar Kota Tidore Drs H, Asrul Sani Solemen saat membuka acara mengatakan,psikologi turis manca negara saat ini telah terjadi perubahan dalam kunjungan wisata dimana mereka tidak lagi melihat posisi daerah yang memiliki kelengkapan infrastruktur, tetapi lebih melihat posisi daerah yang memiliki nilai sejarah yang masih otentik.
Sementar itu ketua panitia Temu Budaya Malut, Mezak Wakin dalam laporannya mengatakan, kegiatan Temu Budaya Malut ini merupakan program unggulan Balai Pelestarian Nilai Budaya Ambon yang digagas dalam konsep pelestarian dan pengembangan serta pemanfaatan unsur kebudayaan lokal sebagai investasi pembangunan bangsa.
“Tujuan kegiatan ini memberikan penekanan pada makna budaya lokal bagi masyarakat, mengetahui akar budaya lokal sebagai perekat hubungan sosial antar masyarakat, meningkatkan kesadaran di kalangan generasi muda dalam memanfaatkan kebudayaan lokal sebagai gagasan pembentukan karakter bangsa, mendorong pemerintah daerah dalam kerangka menyamakan persepsi pemanfaatan budaya lokal sebagai acuan dalam pengembangan kebijakan kedaerahan dan mendorong pemerintah daerah dalam pemanfaatan budaya lokal sebagai kelengkapan event pariwisata,” jelasnya.
Kegiatan Temu Budaya Maluku Utara Tahun 2013 yang dipusatkan di Kota Tidore Kepulauan merupakan program sinergitas yang telah dilaksanakan Balai Pelestarian Nilai Budaya Ambon Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan Pemerintah Kota Tidore Kepulauan, yang tercatat telah berlangsung selama 7 kali pada wilayah kultur yang berbeda yang meliputi Maluku dan Maluku Utara.