Close
 
Kamis, 11 Juni 2026   |   Jum'ah, 25 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 178
Hari ini : 7.138
Kemarin : 58.870
Minggu kemarin : 227.151
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

04 april 2014 06:37

Kebudayaan Sulteng Bisa untuk Diplomasi Internasional

Kebudayaan Sulteng Bisa untuk Diplomasi Internasional
Ilustrasi

Palu, Sulteng - Seorang budayawan dari Palu mengatakan kebudayaan di Sulawesi Tengah semestinya bisa digunakan oleh pemerintah daerah setempat sebagai sarana diplomasi internasional untuk menyambut pasar bebas kawasan ASEAN pada 2015.

Pegiat budaya dari Universitas Tadulako, Hapri Ika Poigi mengatakan dalam usia Sulawesi Tengah 50 tahun pada 13 April 2014, pemerintah daerah setempat sudah harus meletakkan khasanah kebudayaan di daerah itu sebagai jembatan diplomasi internasional.

"Masalahnya saya belum melihat strategi pemerintah daerah dalam penguatan kebudayaan sebagai sebuah potensi besar dalam bidang industri kreatif," katanya di Palu, Selasa (1/4).

Hapri mengatakan kebudayaan dalam perspektif ekonomi kreatif tidak ada matinya, bahkan diprediksi akan menjadi sumber ekonomi yang paling bertahan di tengah lajunya perkembangan industri lainnya di dunia.

"Ketika nanti semua sumber daya alam kita habis, maka industri kreatiflah yang bisa bertahan termasuk di dalamnya kebudayaan," katanya.

Menurut dia, selain sebagai potensi dalam industri kreatif, kebudayaan juga merupakan sarana diplomasi strategis di era perdagangan bebas.

Sayangnya, kata Hapri, pemerintah daerah belum melihat kebudayaan sebagai sarana yang menguntungkan dalam diplomasi global.

Melihat kondisi itulah, katanya, Yayasan Tadulakota sebagai organisasi yang selama ini berkonsentrasi di bidang kebudayaan dan seni bekerja sama dengan pemerintah daerah dan Kantor Berita Indonesia ANTARA Biro Sulawesi Tengah menggelar seminar dan dialog publik potensi kearifan lokal dan diplomasi kebudayaan di era perdagangan bebas.

"Tema besar kita adalah negara dan kebijakan kebudayaan," katanya.

Dia mengatakan seminar nasional yang berlangsung 14-15 April tersebut akan menghadirkan pembicara nasional baik dari kementerian pendidikan dan kebudayaan, pariwisata dan industri kreatif, koalisi seni Indonesia, interprenurship sosial dan seni pertunjukan, Universitas Tadulako dan pelaku usaha kecil dan menengah.

"Lewat seminar bertepatan ulang tahun Sulawesi Tengah ke 50 tahun ini kita berharap potensi lokal kita bisa mengglobal menuju pasar bebas." katanya.

Hapri mengatakan melalui kegiatan itu juga diharapkan bisa melahirkan rekomendasi yang diajukan ke pemerintah daerah sebagai acuan penetapan program strategis di bidang kebudayaan.

Sumber: http://skalanews.com


Dibaca : 1.570 kali.

Tuliskan komentar Anda !