Close
 
Kamis, 11 Juni 2026   |   Jum'ah, 25 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 1.251
Kemarin : 20.067
Minggu kemarin : 227.151
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

21 april 2014 03:04

Selembayung Melayu Riau Diganti dengan Kubah

Selembayung Melayu Riau Diganti dengan Kubah

Pekanbaru, Raiu - Rencana Gubernur Riau Annas Maamun untuk membangun kubah untuk  menggantikan Selembayung mendapat sorotan tajam dari Ketua Majelis Kerapatan Adat (MKA) Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, Tennas Effendi. Menurut Tenas, mestinya Selembayung khas budaya Riau tetap tegak berdiri di kantor orang nomor satu di Riau tersebut.

Menurut Tennas, akan digantinya Selembayung yang selama ini menjadi identitas budaya Riau tersebut sama juga dengan menghambat visi misi Riau 2020 dalam mengangkat budaya Melayu.

"Kami sampai sekarang tak pernah diajak berunding soal itu (mengganti Selembayung dengan kubah). Selembayung ini kan identitas Riau. Harusnya tetap berdiri di sana (kantor gubernur)," kata Tenas, saat dihubungi melalui telephon selulernya, Ahad (20/4).

Tennas bahkan mengaku heran, sikap ngotot Annas mengganti Selembayung dengan kubah hanya berdasarkan keindahan. Parahnya lagi, kubah yang dimaksud Annas merupkan khas bangunan Islam di Istambul, Turki. Hal ini tentunya sangat tidak selaras dengan semangat visi misi Riau 2020 dalam memajukan budaya Melayu.

"Kalau Selembayung dirubah sama dengan menghilangkan identitas. Untuk apa pula budaya orang kita pakai, justru ciri khas kita sendiri diganti. Memang sama-sama Islam, tapi budaya di sana kan tidak sama denga di sini (Riau). Kalau begitu untuk apa Visi Misi 2020 itu, buang saja!" tegas Tennas.

Ketika ditanya, apakah LAM berencana akan mengundang gubernur terkait kebijakannya tersebut, Tennas mengaku belum ada rencana. Namun begitu, Tennas berharap, pemimpin Riau harus konsisten dengan budaya sendiri.

"Bagi saya, pemimpin itu harus konsisten dengan budaya sendiri. Kita kan punya budaya sendiri. Kita tak punya kepentingan, mungkin kalau itu bagus menurut gubernur silakan saja. Kita LAM punya lembaga sendiri, punya acuan sendiri," ungkap Tennas yang juga pernah menjadi dosen kehormatan di negara Malaysia.


Dibaca : 2.540 kali.

Tuliskan komentar Anda !