Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
26 april 2014 02:54
‘Geger Pacinan’ Sejarah Pilu Etnis Cina di Betawi
Salah satu adegan Geger Pacinan (Foto: Trasmara)
Yogyakarta, Jogjatrip.com - Pangeran Mangkubumi marah ketika Sunan Pakubuwono II berpihak pada kompeni. Dengan membawa pusaka tombak, Pangeran Mangkubumi akan melawan kompeni habis-habisan. Meski banyak korban akan berjatuhan, tapi semangat Mangkubumi disambut oleh para prajurit Mataram. Itu adalah kisah penutup ketoprak ringkes Tjap Tjonthong dengan lakon ‘Geger Pacinan’ yang dipentaskan di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Jumat dan Sabtu (25-26/4).
Naskah ‘Geger Pacinan’ ditulis oleh Susilo Nugroho dengan tim sutradara Susilo dan Marwoto Kawer. Ciri khas ketoprak Tjap Conthong ini banyak mengetengahkan humor-humor spontan yang mengundang gelak tawa. Sejak awal pentas, penonton sudah dibuat ngakak oleh bintang-bintang ketoprak yang sudah tak asing lagi seperti Susilo ‘Den Baguse Ngarso’ Nugroho, Marwoto, Ngatirah dan Sudiharjo atau Hargi Sundari. Penata musik ditangani Warsana ‘Kliwir’ dkk, yang juga terlibat jadi pemain.
Mengambil latar belakang kompeni yang menjajah di daerah Betawi, Geger Pacinan yang pilu penuh konflik. Kompeni membuat aturan baru. Etnis Cina di Betawi yang tinggal lebih dari 10 tahun dikenai pajak yang memberatkan. Jika tidak mampu membayar, maka akan dipenjarakan. Tindakan kompeni ini memancing emosi Kapten Sepanjang (Souw Phan Ciang) dan mengeluarkan orang-orang Cina dari tahanan. Tentunya perlawanan ini membuat kompeni marah dan banyak orang-orang Cina ditembak mati.
Dalam pertempuran, kompeni gagal menangkap Kapten Sepanjang, yang melarikan diri ke Jawa Tengah. Di sini Kapten Sepanjang mendapat sambutan hangat dari para petinggi Kasunan Surakarta seperti Tumenggung Martayuda, Patih Natakusuma maupun Pangeran Mangkubumi. Bahkan Sunan Pakubuwono II ikut mendukung untuk melawan kompeni.
Dalam menghadapi kekuatan besar itu, kompeni mampu memecah kekuatan. Patih Natakusuma ditangkap dan Sunan Pakubuwono II berbalik arah ganti mendukung kompeni. Bahkan Sunan memerintahkan Pangeran Mangkubumi untukmenangkap para pembrontak. Bila berhasil akan diberi hadiah daerah Sukawati. Tapi karena Sunan Pakubowono II mendukung kompeni dan rakyat banyak yang jadi korban, Pangeran Mangkubumi bangkit melawan kompeni.
Ceritera ‘Geger Pacinan’ sangat relevan dengan keadaan sekarang ini. Jika banyak pemimpin yang tidak berpihak pada rakyat kecil, maka perlawan akan terjadi. Hal semacam itu sebenarnya harus dihindari. *** (Teguh R Asmara)