Close
 
Kamis, 11 Juni 2026   |   Jum'ah, 25 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 5.190
Kemarin : 20.067
Minggu kemarin : 227.151
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

07 mei 2014 07:14

Lasenda Dukung Tari Tortor sebagai Warisan Budaya Dunia

Lasenda Dukung Tari Tortor sebagai Warisan Budaya Dunia
Peserta Lasenda 2014 menari tortor di objek wisata Kursi Batu di Huta Siallagan, Samosir, Sumut.

Jakarta - Tarian Sumatra Utara, Tortor diusung Lawatan Sejarah Daerah (Laseda) 2014 untuk menjadi warisan budaya dunia. Lewat workshop yang diadakan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Banda Aceh di Samosir, Sumatera Utara ini, puluhan pelajar SMA dari beberapa kabupaten/kota di Aceh dan Sumut turut mendukung upaya tersebut.

Kepala BPNB Banda Aceh Irini Dewi Wanti mengatakan workshop Tortor dalam Laseda 2014 bukan semata mengajarkan kepada para peserta bagaimana menarikan Tortor dengan benar sebagaimana pakemnya.

”Pada workshop ini kita mendukung dan berharap Tortor yang berasal dari Samosir sebagai warisan budaya nasional menjadi Warisan Budaya Dunia yang diakui UNESCO,” katanya dari siaran tertulis yang diterima Rabu (7/5).

Perri Sagala selaku pengajar workshop Tortor dalam kegiatan Laseda 2014 mengakui bangga para pesertanya  mampu dalam waktu singkat menarikan Tortor yang benar.

Menurutnya tarian Tortor  yang belakangan ini  banyak tersiar di dunia maya, memperkenalkan ke seluruh Indonesia dan dunia. Disisi lain, terdapat perbedaan cara menarikannya. Hal ini membuat orang bingung mana tari Tortor yang sebenarnya.

Dikatakan, Tortor yang ada di internet, Youtube, itu semua itu benar namun ada yang tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Karena itulah ia senang mendapatkan kesempatan  dalam workshop ini untuk meluruskan Tortor yang benar sesuai teknik dan maknanya.

“Kalau orang Batak yang menarikan Tortor itu tidak benar, tidak sesuai yang aslinya saya rada kecewa. Tapi kalau diluar orang Batak, saya bisa memaklumi,” jelasnya.

Manortor atau menarikan Tortor yang benar menurutnya harus memenuhi  tiga sarat yakni tariannya itu sendiri, ulos, dan alat musik gondang. Ketiganya tidak bisa dipisahkan dari tarian muda-mudi ini.

Tortor merupakan jenis tarian purba dari Batak Toba yang berasal dari Sumut yang meliputi daerah Samosir, Toba Samosir, Tapanuli Utara, dan Humbang Hasundutan.

Secara fisik Tortor merupakan tarian. Tapi kalau lebih dipahami gerakan-gerakannya, sebeneranya tortor labih dari sekadar tarian bisa.

“Dia bisa juga  menjadi media komunikasi karena terjadi teraksi antara partisipan upacara,” ungkap Perri.

Ia mendukung upaya tersebut dan berpendapat workshop seperti ini harus sering dilakukan. Menurutnya pemerintah dalam hal ini Pemkab Samosir, Pemprov Sumut, dan pusat harus lebih gencar memperkenalkan Tortor baik di tingkat daerah, nasional maupun internasional supaya Tortor berhasil menjadi Warisan Budaya Dunia.

“Kalau di tingkat kabupaten dan provinsi, paling hanya pementasan di event-event budaya seperti Festival Danau Toba dan lainnya,” ujarnya.

Setelah dinobatkan menjadi Warisan Budaya Nasional, tarian Tortor kemudian didaftarkan ke UNESCO agar diakui sebagai Warisan Budaya Dunia. Namun untuk mendapatkan predikat itu, Tortor harus bersaing dengan sejumlah karya budaya dari beberapa negara lain.

Sumber: http://www.suarapembaruan.com


Dibaca : 1.816 kali.

Tuliskan komentar Anda !