Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
06 juli 2014 03:20
Refleksi Perjalanan BKPBM dalam Milad ke-11
Yogyakarta, Melayuonline.com – Milad atau Hari Jadi ke-11 Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) di Jl. Gambiran 85, Yogyakarta, ditandai dengan Refleksi Perjalanan BKPBM selama 11 tahun olehketua BKPBM, Mahyudin Al Mudra, SH, MM, Jumat (4/7) sore.
Milad BKPBM kali ini bertepatan pada bulan Ramadhan, yang diwarnai dengan buka puasa bersama di Balai Melayu.Dalam Acaratersebuthadir, Ir. H. Said Fadillah, MT.,Ustadz Dr. H. Habib Chirzin dan Drs. Mustari, M. Hum., selaku penasehat Melayu yang menemani Mahyudin dalam perjalanan 11 tahun BKPBM.Hadir pula Ahmad Salehudin, S. Ag, MA., selaku peneliti budaya Melayu,H. M. Syukri Fadholi, SH., Sitoresmi Prabuningrat para sahabat dan kerabat Mahyudin serta para mahasiswa Ikatan Pelajar Riau dan Kepulauan Riau yang kuliah di Yogyakarta.
MahyudinAl Mudra, SH, MM., menyampaikan refleksi perjalanan BKPBM
Dalam Refleksi Perjalanan BKPBM, Mahyudin mengungkapkan, Balai Melayu ini didirikan pada 4 Juli 2003dalam upaya menggali, mengumpulkan, melestarikan, mengembangkan dan menghidupkan kembali budaya Melayu. “BKPBM sudah banyak dikunjungi oleh para Bupati, Gubernur dan Menteri yang semuanya mengagumi kearsipan BKPBM,” tutur Mahyudin.
BKPBM yang bergerak dalam digitalisasi online dan offline yakni portal pangkalan data Melayu dan kemelayuan yang berjumlah 7 buah, juga menerbitkan buku-buku Melayu dan cerita bergambar. Selama 11 tahun, BKPBM sudah menerbitkan puluhan judul buku. Sedangkan yang akan diterbitkan tahun selanjutnya ada 19 buku.
Sebagai Ketua BKPBM, Mahyudin telah melakukan kerjasama dengan berbagai lembaga dan melakukan seminar baik di dalam maupun luar negeri. Disamping itu, BKPBM juga melakukan dokumentasi, inventerisasi, mengoleksi, dan duplikasi benda seni budaya Melayu serta naskah-naskah sastra lama. DiBalai Melayu ini ada alat permainan tradisional Melayu, kerajinan dan grafir kaca ornamen Melayu sampai pembuatan keris Melayu.
“Keris Melayu jarang didapat, maka saya menciptakan sendiri, sampai-sampai banyak orang yang mengatakan saya jualan keris,” papar Mahyudin yang disambut tawa para undangan.
Pengakuan reputasi BKPBM terusmengalir dari berbagai belahan dunia. Hal ini ditandai dengan banyak undangan muhibah budaya di luar negeri, seperti ke Museum Leiden, Tropen, Amsterdam, dan museum di Belanda selama satu bulan pada tahun 2004. Ke Istana Lama Seri Menanti dan Museum Diraja Seri Menanti, Negeri Sembilan, Malaysia, dan berbagai negara lainnya.
Berkat intensitas tinggi dalam beraktivitas dan berkreativitas cerdas dalam memimpin BKPBM, Mahyudin memiliki rekam jejak yang diakui di dunia budaya pada umumnya. Beberapa gelar kebangsaan atau gelar adat pun diterimanya. Di antaranya, Gelar Datuk Cedekia Hikmatullah dari Kesultanan Serdang, sumatera Utara (2009), Pangeran Nata Waskita dari Kesultanan Mempawah, Kalimantan Barat (2012), Kanjeng Raden Mas Haryo dari Kasultanan Deman Bintoro (2013). Award yang pernah diterimanya adalah Anugerah Kebudayaan RI dari Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata RI (2004), Anugerah Sagang dari Yayasan Sagang, Riau (2005 dan 2008) dan Tokoh Pemersatu Melayu Serantau dari Lembaga Adat Melayu Serantau di Rumah Adat Melayu Ketapang, Kalimantan Barat (2009).
MahyudinAl Mudra, SH, MM. Memberikan potongan kue pada Chabib Chirzin (Foto: Trasmara)
Menandai 11 tahun BKPBM, Mahyudin melakukan pemotongan tumpeng yang diberikan pada para kerabat, relasi, dan undangan.Disamping itu, Mahyudin yang kerap disapa Bang MAM itu juga sedang berulang tahun, hal itu ditandai dengan pemberian kejutan kue tart dan bingkisan dari kru BKPBM, mahasiswa Melayu di Yogyakarta, dan para relasi yang dipersembahkan kepada Bang MAM. “Usia saya 50 tahun keatas,” canda Bang MAM dihadapan para undangan yang kebanyakan para sahabatnya.
Mahyudin Al Mudra, SH, MM., saat mendapat kado dari mahasiswa Melayu
Pada kesempatan tersebut,Dr. Habib Chirzin yang sangat mengagumi perkembangan BKPBM, menyampaikan dalam sambutan dan tausiyah Ramadhan.“BKPBM memiliki portal paling lengkap dan telah diakui oleh dunia internasional,”kata Ustz. Habib. Ia meminta supaya portal-portal online yang dimiliki BKPBM menjadi ikon budaya Melayu yang tak lekang oleh zaman.
Mahyudin dan kakaknya Mudra Mukhlis
Sementara Mudra Muklis, kakak kandung Mahyudin banyak mengungkapkan perjalanan adiknya waktu SMP hingga sekarang. Memberikan petuah dan dorongan semangat, supaya BKPBM selalu terus berkembang, meski dengan dana yang sangat terbatas.
Memeriahkan acara Milad-11 BKPBM,mahasiswa Kabupaten Karimun membawa grup nasyid untuk mendendangkan beberapa lagu. Sementara lagu-lagu Melayu ditembangkan oleh para undangan dengan iringan orgen tunggal. Meski sederhana, Milad 11 BKPBM tampak meriah. *** (Teguh R Asmara)