Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
15 agustus 2014 01:59
Budaya Lokal Manggarai Ditinggalkan
Ruteng, NTT - Campur tangan kebudayaan global, ilmupengetahuan dan teknologi modernyang sulitdibendung, secara langsungmempengaruhiwarisan adat istiadatmasyarakat Manggarai Raya. Kenyataan itudisadarioleh orang muda Manggaraisaatini yang secara perlahan meninggalkan identitasbudaya lokal.
Perubahan pola pikir, sikap, tutur kata dan keseharian itu ikut membentuk wajah baruorang Mangarai yang meninggalkan kebiasaan lokal. Mereka merasa ketingglan zaman atau tidak modern bila menggunakan simbol-simbol kedaerahan.
Demikian diungkapkan Koordinator Pokja Budaya, Kanis Deki, kepada Pos Kupang seusai presentasipojkabudaya dalam Kongres Pemuda Manggarai Rayadi Aula Misio STKIP St. Paulus Ruteng, Rabu (13/8/2014) sore.
Sampai pukul 18.00 Wita masih berlangsung presentasi pokjaekonomi. Pokja sosial politik, hukum, dan hak asasi manusia, pendidikan, perempuan dan anak akan dilakukan Kamis hingga Jumat besok. "Dalam tutur kata keseharian, menyapa orang bukan dengan kata-kata yang terhormat, tetapikata-kata makian. Hal yang salah ini masih dianggap lumrah," kata Kanis mencontohkan.
Kenyataanseperti itu, lanjut Kanis, juga berlangsung dalam penyelenggaraan ritus-ritus adathanya menjadi milik sekelompok orangtua. Padahal, kelak kaum muda yang melanjutkan tradisi itu. Fakta lainnya, secara sadar orang Manggarai mulai kehilangan jati diri soal bangunan rumah, tata kampung, seni tari dan berpakaian. Hanya sedikit generasi muda yang menyenangiberpakaian khas Manggarai, meskimereka dianggaptidak gaul dan mengikutitrend mode.
Pokja budaya, kata Kanis,menawarkan pendidikan (toing) danpendampingan (titong)kepada anak-anak dan orang muda yang dimulai dari keluarga-keluarga. Lembaga pendidikan formalmemasukkan mata pelajaran muatan lokaltak hanya di SD-SMA, tetapi berlanjut ke jenjang perguruan tinggi. Pendidikan non formal melibatkan kaum muda secara langsung dalam pelbagai seremoni adat.
Pokja budaya menyarankanpenggunaan busana daerah dan pelayanan yang berbasis budaya lokal dalam hari tertentu di setiap minggu. Anak sekolah mengunakan busana daerah ke sekolah.
Kongres Pemuda Manggarai Raya perdana dimulaiRabu kemarin dihadirihampir200-an pesertadari berbagai latarbelakang dan profesi yang domisili di Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur maupun yang berasal dari luarManggarai. Hadir pula politisi muda, Andre Garung, anggota terpilih DPD RI, pengajar Unwira Kupang, Dr. Norbert Jegalus, dan Dr.Romo Ino Sutang, Pr, dari STKIP Ruteng.
Suasana kongres berlangsung dinamis semua peserta memiliki hak suara yang sama menyampaikan gagasan dan solusi. Tak ada kesan suasana formal seperti kebanyakankongres, rapat, dan diskusi umumnya.