Close
 
Kamis, 11 Juni 2026   |   Jum'ah, 25 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 494
Hari ini : 10.558
Kemarin : 58.870
Minggu kemarin : 227.151
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

15 agustus 2014 01:59

Budaya Lokal Manggarai Ditinggalkan

Budaya Lokal Manggarai Ditinggalkan

Ruteng, NTT - Campur tangan kebudayaan global, ilmu  pengetahuan dan teknologi modern  yang sulit  dibendung, secara langsung  mempengaruhi  warisan adat istiadat  masyarakat Manggarai Raya. Kenyataan itu  disadari  oleh orang muda Manggarai   saat  ini yang secara perlahan meninggalkan identitas  budaya lokal.

Perubahan pola pikir, sikap, tutur kata dan keseharian itu ikut membentuk wajah baru  orang Mangarai yang meninggalkan kebiasaan lokal. Mereka merasa ketingglan zaman atau tidak modern bila menggunakan simbol-simbol kedaerahan.

Demikian diungkapkan  Koordinator Pokja Budaya, Kanis Deki, kepada Pos Kupang seusai presentasi  pojka  budaya dalam Kongres Pemuda Manggarai Raya  di Aula Misio STKIP St. Paulus Ruteng, Rabu (13/8/2014) sore.

Sampai pukul 18.00 Wita masih berlangsung presentasi pokja  ekonomi. Pokja sosial politik, hukum, dan hak asasi manusia, pendidikan, perempuan dan anak akan dilakukan Kamis hingga Jumat besok. "Dalam tutur kata keseharian, menyapa orang bukan dengan kata-kata yang terhormat, tetapi  kata-kata makian. Hal yang salah ini masih dianggap lumrah," kata Kanis mencontohkan.

Kenyataan  seperti itu, lanjut Kanis, juga berlangsung dalam penyelenggaraan ritus-ritus adat   hanya menjadi milik sekelompok orangtua. Padahal, kelak kaum muda yang melanjutkan tradisi itu. Fakta lainnya, secara sadar orang Manggarai mulai kehilangan jati diri soal bangunan rumah, tata kampung, seni tari dan berpakaian. Hanya sedikit generasi muda yang menyenangi  berpakaian khas Manggarai, meski  mereka dianggap  tidak gaul dan mengikuti  trend mode.

Pokja budaya, kata Kanis,  menawarkan pendidikan (toing) dan  pendampingan (titong)  kepada anak-anak dan orang muda yang dimulai dari keluarga-keluarga. Lembaga pendidikan formal  memasukkan mata pelajaran muatan lokal  tak hanya di SD-SMA, tetapi berlanjut ke jenjang perguruan tinggi. Pendidikan non formal melibatkan kaum muda secara langsung dalam pelbagai seremoni adat.

Pokja budaya menyarankan  penggunaan busana daerah dan pelayanan yang berbasis budaya lokal dalam hari tertentu di setiap minggu. Anak sekolah mengunakan busana daerah ke sekolah.

Kongres Pemuda Manggarai Raya perdana dimulai  Rabu kemarin dihadiri  hampir  200-an peserta  dari berbagai latarbelakang dan profesi yang domisili di Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur maupun yang berasal dari luar  Manggarai. Hadir pula politisi muda, Andre Garung, anggota terpilih DPD RI, pengajar Unwira Kupang, Dr. Norbert Jegalus, dan Dr.Romo Ino Sutang, Pr, dari STKIP Ruteng.

Suasana kongres berlangsung dinamis semua peserta memiliki hak suara yang sama menyampaikan gagasan dan solusi. Tak ada kesan suasana formal seperti kebanyakan  kongres, rapat, dan diskusi umumnya.

Sumber: http://kupang.tribunnews.com


Dibaca : 1.012 kali.

Tuliskan komentar Anda !