Close
 
Sabtu, 13 Juni 2026   |   Ahad, 27 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 76
Hari ini : 11.113
Kemarin : 18.252
Minggu kemarin : 227.151
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

29 sepember 2014 07:43

Seminar Budaya Melayu: Pendidikan Kunci Kemajuan Bangsa

Seminar Budaya Melayu: Pendidikan Kunci Kemajuan Bangsa

Pangkalan Kerinci, Riau - Keberadaan putra melayu dituntut harus bisa bersaing, tidak hanya di negerinya sendiri melainkan juga di kancah nasional maupun internasional. Kekayaan sumber daya alam (SDA) yang dimiliki di daerah tidak akan memberikan jaminan bagi kesejahteraan. Demikian terungkap dalam Seminar Budaya Melayu yang ditaja oleh Ikatan Keluarga Melayu Riau (IKMR) PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), Sabtu (27/9), di Hotel Unigraha, Pangkalan Kerinci.

Hadir sebagai pembicara dalam seminar tersebut, mantan Rektor UNILAK yang sekarang menjabat sebagai Kepala Dinas Kehutanan, Prof. Dr. Ir. H. Irwan Effendi, M.Sc. Irwan menegaskan bahwa memasuki era globalisasi ini putra melayu harus bisa bersaing dengan dunia luar agar tidak kalah dan menjadi penonton di negeri sendiri.

"Ekonomi itu dikendalikan oleh pengetahuan dan teknologi, jadi jangan sebut lagi kalau Sumber Daya Alam kita yang kaya dan melimpah, karena itu tidak serta merta menjamin kesejahteraan," kata Irwan.

Irwan juga mengatakan konsep pendidikan Indonesia lebih banyak mengganggarkan biaya pada pendidikan dasar daripada perguruan tinggi yang merupakan ujung tombak keberhasilan pendidikan. Dari data Human Development Index 2014, Indonesia berada di peringkat 108, jauh di bawah negara-negara Asia Tenggara, seperti Singapura, Brunei Darussalam dan Malaysia.

"Jadi akar permasalahannya itu terletak pada kualitas sumber daya manusia yakni pendidikan, etos kerja dan skill, termasuk kompatibilitas dan strategi pengembangannya, serta budaya dan pemahaman agama," papar mantan Kadis Pendidikan Propinsi Riau kelahiran Gunung Intan, Rokan Hulu ini.

Usai pemaparan oleh Irwan, Community Development (CD) Manager RAPP, Lukman, juga mengatakan perlunya perubahan cara pikir sebagai putra daerah. "Kita ini sebenarnya sama kemampuannya, cuma mungkin ada beda dalam cara berpikir. Ketika kita bekerja di daerah kita, jangan pikirkan kita dekat dengan kampung, tapi pikirkan bagaimana kita bersaing, dan kurangi meminta fasilitas," ujar pria kelahiran Langgam, Pelalawan ini.

Sementara itu, R. Elwan Jumandri, karyawan RAPP kelahiran Kuantan Singingi mengusulkan agar kalangan perguruan tinggi yang ada di Riau juga memberikan peluang bagi putra-putri di Riau ini untuk bisa memperoleh pendidikan yang dapat langsung diserap oleh dunia industri yang cukup banyak beroperasi di bumi Lancang Kuning ini.

"Kita patut berbangga menjadi orang melayu, tapi kita juga harus pintar melihat peluang. Banyak industri yang ada di Riau ini, dan perguruan tinggi bisa mengambil momen itu untuk meningkatkan sumber daya manusia orang melayu. Kita ini jangan seperti orang panjat pinang, begitu ada yang naik, malah ditarik atau bahkan dipijak," tutur Elwan.

Deputi Direktur Operasional RAPP, M. Ali Shabri saat membuka Mubes mengatakan keberadaan IKMR sebagai paguyuban tempatan sangatlah penting dalam keberlangsungan perusahaan. Ketika perusahaan terpaksa mengambil keputusan sulit demi keberlangsungan operasional, paguyuban merupakan tempat berkomunikasi menyampaikan curahan hati berbagai informasi sehingga perusahaan mampu kembali untuk bangkit dan melewati masa-masa krisis.

“Perhatian perusahaan terhadap paguyuban sama besarnya, namun IKMR sebagai paguyuban tempatan, di situ letak perusahaan berdiri, tentu agak lebih perhatian, sebagaimana ungkapan melayu, dimana air disauk, disitu ranting dipatahkan,” ujar Ali Shabri.

Sejumlah perhatian yang diberikan kepada masyarakat yang ada di sekitar wilayah operasional tadi di antaranya perekrutan karyawan, kerjasama sekolah kejuruan dan perguruan tinggi, beasiswa unggulan, dan mengirim pelajar tempatan untuk menuntut ilmu khusus pulp (bubur kertas.red) dan kertas di Bandung dan Yogyakarta, serta berbagai pelatihan demi peningkatan ekonomi masyarakat setempat.

Seminar budaya ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan yang digelar dalam memeriahkan Musyawarah Besar (Mubes) IKMR RAPP ke-6.

Sumber: http://riauterkini.com


Dibaca : 1.472 kali.

Tuliskan komentar Anda !