Sabtu, 13 Juni 2026   |   Ahad, 27 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 212
Hari ini : 11.130
Kemarin : 18.252
Minggu kemarin : 227.151
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

30 sepember 2014 07:14

Bersatu dalam Tari Flobamora di Festival Moyo

Bersatu dalam Tari Flobamora di Festival Moyo

Sumbawam NTB - Beragam tradisi adat istiadat Tau Samawa (Orang Sumbawa) memeriahkan pawai budaya Samawa, hari ini, Senin (29/09/2014). Pawai Budaya ini merupakan bagian dari event pariwisata Festival Moyo ketiga tahun 2014.

Pada pawai tersebut, ratusan peserta yang berasal dari kalangan pelajar dan umum mengenakan kostum adat dan menyita perhatian warga. Mereka berkeliling mengitari ruas jalan utama kota Sumbawa sambil memperagakan tradisi yang dibawanya.

Tradisi dan adat yang ditampilkan berupa prosesi pra-pernikahan, perayaan Maulid Nabi Muhammad dan tarian tradisional ‘Rabalas lawas’ atau balas pantun serta tarian atau tradisi lainnya yang ada di Pulau Sumbawa.

Salah satu tradisi yang menyita banyak perhatian warga pada pawai budaya ini adalah tarian Tradisional warga Sumbawa keturunan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang bernama Flobamora.

Pantauan Liputan6.com, saat tarian tradisional Flobamora tersebut ditampilkan, ribuan warga yang kala itu sedang menyaksikan pawai, spontan tertawa dan mengikuti gaya tarian mereka yang terbilang unik.

Saking maraknya, pembawa acara juga ikut menari sambil menyemangati peserta asal keturunan NTT tersebut. Bahkan para wartawan dan fotografer yang kala itu meliput juga tak kalah eksis, mereka mengabadikan foto selfi dengan tongkat narsis (tongsis) di tengah tengah peserta.

Warga keturunan Lombok tidak mau kalah dengan menampilkan Gendang Beleq dan Kecimolnya. Begitu juga dengan warga Bali yang juga tidak mau ketinggalan, mereka menampilkan tradisi atau upacara Mejauman .

Mejauman dilakukan setelah ‘Memadik’ atau dalam bahasa Bali berarti meminang. Prosesi Mejauman tersebut disemarakan dengan menampilkan gamelan geguntungan yang ditabuh oleh para muda-mudi.

Bupati Sumbawa, Jamaludin Malik mengatakan, pawai budaya ini digelar untuk menyatukan dan menjadi perekat perbedaan bagi warga Sumbawa yang terdiri dari berbagai keturunan agar tidak terjadi lagi koflik yang menagatasnamakan perbedaan.

“Jangan lagi mempersoalkan perbedaan dan sebagainya. Tetapi kita cari persamaan, perbedaan itu kita jadikan persamaan untuk persatukan diri kita memiliki daerah ini,” ungkap Bupati Sumbawa di sela-sela acara.

Sumber: http://lifestyle.liputan6.com


Dibaca : 1.354 kali.

Tuliskan komentar Anda !