Close
 
Sabtu, 13 Juni 2026   |   Ahad, 27 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 579
Hari ini : 11.080
Kemarin : 18.252
Minggu kemarin : 227.151
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

30 sepember 2014 07:49

Ahok Larang Ondel-ondel Ngamen di Jalan

Ahok Larang Ondel-ondel Ngamen di Jalan

Jakarta - Banyaknya pengamen yang mengenakan kostum ondel-ondel di jalanan Jakarta membuat pemprov gerah. Akhirnya, mereka mengeluarkan peraturan yang melarang penggunaan ikon Betawi tersebut untuk mengamen.

Larangan itu disampaikan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki T. Purnama (Ahok) kemarin. Dia menilai, ondel-ondel telah keluar dari tujuan dan peruntukannya. Pemprov merasa bertanggung jawab untuk mengembalikan tujuan ondel-ondel sebagai pertunjukan dalam pesta rakyat.

Menurut dia, ikon kesenian Betawi itu tidak sepatutnya dijadikan alat mengamen. Apalagi, pemprov tengah berupaya memberlakukan larangan bagi semua pengamen jalanan di ibu kota. Dengan membiarkan pengamen yang menggunakan ondel-ondel, sama artinya pemprov mendukung kegiatan mengamen.

Karena itu, dia akan berbicara dengan dinas terkait untuk mencari solusi. ''Seharusnya, itu (pengamen ondel-ondel, Red) dilarang ya, teknisnya ke dinasnya saja,'' katanya di balai kota Senin (29/9).

Ahok bertekad terus menertibkan segala bentuk cara mencari nafkah dengan meminta-minta. Termasuk, meminta-minta dengan menggunakan ondel-ondel. Dia sudah menginstruksi dinas sosial (dinsos) untuk mendata warga yang berisiko menyandang persoalan sosial. Selanjutnya, mereka diberikan tempat tinggal dan pekerjaan yang sesuai dengan bakat mereka. Dengan demikian, tidak ada lagi warga yang mengamen dengan cara apa pun di Jakarta.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Arie Budiman akan mencari solusi terbaik agar ondel-ondel tidak digunakan untuk mengamen. Dia menyatakan telah lama memikirkan hal itu. Sebab, ondel-ondel yang dijadikan alat mengamen akan menurunkan nilai seni, estetika, dan budaya daerah. ''Ini (ondel-ondel) memiliki nilai seni dan budaya yang tinggi, harus dipertahankan,'' jelasnya.

Menurut Arie, di luar negeri beberapa alat kesenian dan kebudayaan memang biasa digunakan untuk mencari nafkah. Namun, pengamen di sana lebih tertata dan tertib. Warga luar negeri sangat menghargai nilai seni dan budaya lokal. Karena itu, kehadiran pengamen di sana tidak mengganggu warga. ''Kalau di Jakarta, sangat menggangu lalu lintas karena mereka meĀ­ngamen di tengah jalan."

Arie berencana melibatkan para tokoh Betawi untuk membahas nasib ondel-ondel. Harapannya, solusi yang diberikan pemprov tidak merugikan warga yang mengais rezeki dengan ondel-ondel. ''Konsep di luar negeri perlu kita tiru, bentuknya seperti apa akan kita bahas."

Sumber: http://www.jpnn.com


Dibaca : 958 kali.

Tuliskan komentar Anda !