Close
 
Sabtu, 13 Juni 2026   |   Ahad, 27 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 511
Hari ini : 9.656
Kemarin : 18.252
Minggu kemarin : 227.151
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

11 november 2014 04:35

Pagelaran Wayang Orang Seribu Bintang Heboh

Pagelaran Wayang Orang Seribu Bintang Heboh
Ilustrasi

Solo, Jateng - Sebanyak 18 grup wayang orang dari berbagai kota akan menyemarakkan Wayang Orang Seribu Bintang (Wosbi) yang diinisiasi Radio Republik Indonesia (RRI) Solo. Mereka akan tampil menyuguhkan daya kreativitas lewat pola garap bervariasi sebagai uapaya membangun kembali komunitas wayang orang yang kini mulai menipis.

Jumlah peserta Wosbi kali ini, jelas Ketua Panitia, Ali Marsudi, relatif lebih banyak ketimbang agenda serupa tahun 2014 yang tercatat 12 grup. Demikian halnya asal kota peserta, tambahnya, kepada wartawan di RRI Solo, Senin (10/11/2014), lebih melebar, diantaranya dari Solo sebagai tuan rumah, Semarang, Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Wonogiri, dan Blitar.

Di tengah keriuhan budaya pop, tambahnya, keberadaan wayang orang memang semakin terpinggirkan. Sementara problematika tersebut, lebih banyak dibahas dalam ruang-ruang diskusi, yang ternyata belum membuahkan kebangkitan genre kesenian yang pernah jaya hingga dekade 1980-an.

"Lewat Wosbi, RRI ingin membangun masa kebangkitan wayang orang dalam bentuk pemanggungan dengan menjaring sebanyak mungkin kelompok wayang orang," tambahnya.

Dalam kaitan itu pula, panitia memberi ruang seluas mungkin bagi peserta Wosbi mengeksplorasi daya kreatif, sepanjang masih berada pada koridor wayang orang panggung. Mesti disadari, tambahnya, regenerasi wayang orang memerlukan penjelajahan daa kreativitas dengan menyesuaikan perkembangan zaman. Setidaknya, hal itu diarahkan untuk menghilangkan kesan kuna yang acap dilekatkan pada seni wayang orang.

Menjawab pertanyaan kemunculan kelompok-kelompok wayang yang dimotori sosialita, terutama di kota besar, Ali Marsudi, menilai menyiratkan iklim pertumbuhan menyegarkan, meski dari sisi kualitas masih perlu dipertanyakan. Kehadiran kaum sosialaita dalam dunia wayang orang, sementara ini masih diperlukan, hingga suatu saat nanti tumbuh daya apresiasi yang sebenarnya.

Di sisi lain, Kepala RRI Solo, Chrisma Riny menambahkan, sebagai sebuah lembaga penyiaran milik pemerintah, RRI berkomitmen untuk melestarikan dan mengembangkan seni tradisi. Tak menutup kemungkinan, Wosbi yang telah terselenggara kedua kalinya, akan dijadikan agenda tahunan atau minimal dua tahun sekali.

Sumber: http://krjogja.com


Dibaca : 2.405 kali.

Tuliskan komentar Anda !