Close
 
Sabtu, 13 Juni 2026   |   Ahad, 27 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 578
Hari ini : 10.609
Kemarin : 18.252
Minggu kemarin : 227.151
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

05 desember 2014 07:39

Melihat Tradisi ’Bele Kampung’ Desa Selat Akar

Melihat Tradisi ’Bele Kampung’ Desa Selat Akar

Pulau Padang, Riau - Tradisi 'Bele Kampung' Tahun 2014 di Desa Selat Akar Kecamatan Tasik Putri Puyu Kabupaten Kepulauan Meranti telah digelar Warga Suku Seli (Suku Asli atau Akit, red) selama tiga hari terhitung sejak Jumat 28 November sampai Ahad 30 November 2014.

Kegiatan 'Bele Kampung' adalah kegiatan semacam ritual untuk menghalau hal-hal yang mengganggu dan dari niatan jahat baik secara batiniah, maupun secara rohaniah dan sebagai ritual untuk mensyukuri kemakmuran masyarakat yang telah diberikan oleh Yang Maha Kuasa.

Tim Media Destinasi Wisata Kepulauan Meranti yang diketuai Sekretaris Disparpora Meranti H Ismail Arsyad, bersama sejumlah awak media berkesempatan untuk melihat secara langsung.

Menurut Ketua Adat Suku Seli Desa Selat Akar Endang, acara ini dilaksanakan setiap tahun sejak zaman nenek moyang mereka sebelum Indonesia merdeka. 'Bele Kampung' bertujuan untuk meminta 'keselamatan' dan terhindar dari segala marabahaya.

Upacara tradisi adat turun temurun Suku Seli (Suku Akit) di pesisir Pulau Padang itu berjalan alot dan penuh mistis, seorang tetua atau Tuk Bomo (Dukun) selama 3 malam melakukan ritual. Tuk Bomo didampingi seorang Bidu dan 3 Pemukul Bebane (alat musik tradisional yang terbuat dari pohon kelapa dan kulit kambing).

Sebagai Catatan, 'Bele Kampung' dahulunya dipercayai dan dilakukan hampir di seluruh desa di Kepulauan Meranti. Dalam perubahan zaman dan kepercayaan, tradisi ini hampir punah. Namun tidak di Desa Selat Akar. Di desa ini masih dilakukan setiap tahun.

Mengawali upacara, Tuk Bomo melakukan ritual memanggil masuk roh-roh datuk ghaib yang dipercayai sebagai roh-roh gurunya. Setelah kerasukan roh itu, Tuk Bomo meminta petunjuk kepada roh datuk-datuk (yang menurut warga setempat ada sekitar 30 datuk, red) bahan-bahan apa saja yang harus dipersiapkan untuk prosesi puncak 'Bele Kampung'.

Bahan-bahan yang dimaksud itu merupakan Ancak yang berbentuk wadah persembahan terbuat dari pelepah sagu. Ancak ini berisikan sesaji seperti bBertih, pulut kuning, telor, pisang, ayam panggang dan sebagainya, yang mana pada tahun 2014 ini Tuk Bomo minta persediaan sebanyak 16 Ancak untuk persembahan kepada Roh Datuk di Darat dan Roh Datuk di Laut.

16 Ancak itupun dibuat oleh warga setempat secara bergotong royong dengan berbagai bentuk menyerupai bangunan rumah/gedung, balai adat dan ada juga berbentuk kapal dan perahu layar.

Sesuai saran dari Tuk Bomo, masing-masing Ancak itu akan dipersembahkan 7 (Tujuh) didarat dan 9 (Sembilan) dilaut, untuk tujuh di Darat diantaranya Ancak Ghaib, Balai Cungak, Balai seksa, Balai bunga, Balai rumah, Balai tekena dan Balai gedung.

Sementara sembilan Ancak yang dipersembah dilaut yakni Ancak Kapal, Lancang kuning, Wangkang, Bantan, Pulai, Balai pengadap laut, Balai semoleh, Garam sebuku dan Lancang talang.

Setelah semua siap dan dinyatakan Tuk Bomo lengkap melalui lanjutan ritual malam terakhir, 16 Ancak ini baru pada Senin 1 Desember 2014 siang diletak kesejumlah lokasi kramat untuk persembahan, disebagian lokasi pinggiran sungai tersebut sudah terlihat ada bangunan pondok-pondok kecil yang diletak patung kecil dan dihiasi kain warna warni.

Lokasi-lokasi persembahan ancak itu yakni di Sungai Semoleh, Sungai Pancur, Sungai Kereban, Sungai Pinang (Datuk kopi), Sake Datuk, Datuk rotan (Panglime darat), Datuk ru dan Tanjung tengar.

Prosesi peletakan ancak itupun tak semudah dibayangkan, Tuk Bomo pemimpin upacara tradisi adat dibekali senjata panah yang diujungnya di letak buah pinang muda.

Tuk Bomo itu tak jarang terlihat kewalahan menghadapi perlawanan makhluk ghaib, bahkan dalam keadaan kerasukan roh datuk, Ia sempat terlihat terpelanting hampir jatuh kesungai, beruntung Ketua adat yang mendamping mampu memulihkan kondisi itu sehingga upaca bisa kembali dilanjut.

Setelah persembahan Ancak didaratan pingiran sungai usai, Perosesi 'Bele Kampung' pun dilanjut dengan persembahan ancak di Kuala Sungai Desa Selat Akar mengarah ke Selat Malaka, disini merupakan Prosesi akhir kegiatan itu, Disanalah Tuk Bomo meluahkan kegembiraan dengan terjun kelaut, dengan laju, Ia berenang mengelingi Ancak yang sudah dihanyutkan.

Seluruh rangkaian kegiatan tersebut diyakini bisa membawa berkah bagi segenap Warga Suku Seli (Akit,red) Desa Selat Akar, Selama 3 hari kedepan seluruh warga juga dipantang melakukan kegitan seperti memetik daun, menebang kayu dan sejumlah kegiatan serupa.

Sumber: http://riauterkini.com


Dibaca : 1.259 kali.

Tuliskan komentar Anda !