Kamis, 30 April 2026 |Jum'ah, 13 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 212
Hari ini
:
9.195
Kemarin
:
22.835
Minggu kemarin
:
169.256
Bulan kemarin
:
101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
17 desember 2014 11:10
Festival Songket Sumatera, Sebuah Perjalanan Warisan Melayu
Yogyakarta, Melayuonline.com - Wastra Indonesia sangat kaya ragam dan mempesona, ada batik, tenun, sulam, dan songket. Sebagai sebuah produk budaya, masing-masing memiliki spesifikasi dan kelebihan, bahkan menyimpan sejarah dan makna filosofisnya sendiri. Songket sebagai salah satu kain etnik dulunya dikenal sebagai bahan busana mewah kalangan terbatas, penghias elegan tubuh pembesar kerajaan di era abad VII. Kini, songket telah merambah kalangan lebih luas dan mendunia. Bahkan berbagai event fashion telah banyak digelar untuk mempromosikan kain khas etnik warisan budaya Melayu ini.
Perjalanan panjang sejarah songket dari masa ke masa, dari sebelum zaman keemasan Kerajaan Sriwijaya hingga masa modern inilah yang ingin dihadirkan kembali oleh Museum Tekstil Jakarta dalam sebuah event budaya, Festival Songket Sumatera: “The Journey of Songket Sumatera” yang akan ditaja pada Rabu hingga Minggu, 17 – 21 Desember 2014.
Selama lima hari berlangsung, berbagai acara menarik diagendakan untuk masyarakat dan terbuka untuk umum. Mulai dari pameran songket dan bazaar, workshop songket, sarasehan budaya, perbincangan santai tentang wastra nusantara, sampai gelar Budaya Melayu di Museum Tekstil, jalan Aipda K.S. Tubun no. 2 – 4 Jakarta Barat. Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk menggugah apresiasi serta memberikan inspirasi kepada kaum muda tentang produk budaya bangsa.
Festival ini akan bermula pada saat acara pembukaan yang bertajuk “Malam Resam Bermadah Melayu”, Rabu (17/12). Nuansa Melayu akan sangat terasa karena semua yang hadir diharapkan memakai busana Melayu. Yang pria memakai teluk belanga kemeja songket, dan wanita mengenakan baju kurung berkain songket. Apalagi, sebagai pembuka acara di malam itu nanti adalah sebuah tari Melayu tradisional yang rancak nan indah, yaitu Tari Serampang XII. Tari yang mengisahkan tentang prosesi dan asyik masyuknya sebuah cinta suci sepasang remaja Melayu yang bertahta di atas keteguhan nilai-nilai adat.
Selain tari tradisional Melayu khas Sumatera tersebut, acara yang menurut rencana akan dihadiri oleh Ibu Okke Hatta Rajasa dari Cita Tenun Indonesia dan H. Gatot Pujo Nugroho, M.Sc. selaku Gubernur Sumatera Utara, ini akan menampilkan juga sebuah tari Melayu kontemporer, Musake. Lebih hangat lagi, acara pembukaan ini akan dimeriahkan juga dengan dendang lagu-lagu Melayu nan elok melalui penampilan Tengku Ryo, seorang violist Melayu kontemporer yang tak sing lagi. Dan, tentu saja gelaran yang tak boleh dilewatkan, fashion show busana bersongket oleh Oki Wong dari Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Medan.
Festival ini juga berusaha lebih mengakrabkan songket dengan para penggunanya atau masyarakat luas dengan meracik acara santai dalam “Bincang Wastra”, sebuah perbincangan yang akan membedah berbagai pengetahuan tentang dunia kain warisan budaya pada khususnya, termasuk songket, pada Kamis (18/12). Melalui tema “Cerita dalam Sehelai Kain Songket”, perbincangan ini akan menghadirkan nara sumber yang telah lama menekuni dunia songket. Di antaranya, Tengku Mira Sinar dari Yayasan Kesultanan Serdang, Sumatera Utara, Judi Achjadi dari Museum Tekstil Jakarta, Okke Hatta Rajasa dari Cita Tenun Indonesia, dan Dr. Ratna Panggabean, akademisi Kria Tekstil Institut Teknologi Bandung (ITB).
Workshop songket yang diagendakan dalam festival ini akan digelar pada hari Jumat dan Sabtu (19-20/12), pagi hingga sore hari. Sedangkan esoknya, Minggu (21/12) diadakan Sarasehan Budaya. Usai sarasehan, Tengku Ryo, sang violist Melayu, kembali akan menghibur pengunjung Festival Songket Sumatera ini bersama Samudera Ensemble dari Tanjungpinang, Kepulauan Riau dalam bingkai “Musik Sore”. ****(Agus Najib Afwan/01/12-2014)