Jumat, 4 September 2026 |Sabtu, 21 Rab. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini
:
4.867
Kemarin
:
28.306
Minggu kemarin
:
32.264.566
Bulan kemarin
:
43.463.948
Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
05 januari 2015 06:03
Grebeg Maulud di Yogyakarta Sedot Ribuan Wisatawan
Gunungan Lanang keluar dari Pagelaran Kraton Yogya (Foto: Trasmara)
Yogyakarta– Keluarnya gunungan Grebeg Maulud dari Kraton Yogyakarta ke Masjid Besar Kauman atau ke Puro Pakualaman dan Kepatihan mendapat sambutan yang luar biasa dari para wisatawan nusantara maupun mancanegara pada Sabtu (3/1) siang. Ruas-ruas jalan Pagelaran Kraton menuju Masjid Besar Kauman maupun Jl. Senopati menuju Puro Pakualaman serta jalan depan Gedung Agung sampai Kepatihan dipadati ribuan pengunjung.
Grebeg Maulud mengeluarkan 7 gunungan dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus menutup rangkaian perayaan Sekataen yang berlangsung satu bulan di Alun-alun Utara Yogyakarta.7 gunungan tersebut adalah Gunungan Lanang berjumlah 3 buah, Gunungan Wadon, Gunungan Gepak, Gunungan Darat, Gunungan Pawuhan, dan Gunungan Picisan masing-masing sebuah, di kawal oleh empat ekor gajah. Untuk Gunungan Lanang masing-masing dibawa ke halaman Masjid Kauman, Puro Pakualaman, dan Kepatihan.
“Grebeg Maulud tahun ini lebih meriah dibanding tahun lalu,” kata Tuti Susiatun, staf Humas Pemkot Yogyakarta di Pos Informasi yang ditemui Jogjatrip.
Menurut Tuti, dalam satu tahun Kraton Yogyakarta mengadakan grebeg dengan gunungan berjumlah tiga kali yaitu Grebeg Maulud untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad, Grebeg Besar pada hari raya Idul Adha dan Grebeg Syawal pada hari raya Idul Fitri. Gunungan itu terdiri dari sayur mayur, kacang panjang, cabai merah, ubi, dan jajan pasar. Gunungan ini direbutkan oleh masyarakat.Sebagian masyarakat berkeyakinan jika mendapatkan barang-barang dari gunungan itu, akan mendapat berkah.
Kirab gunungan Grebeg Maulud itu diawali dengan delapan bregada (prajurit) yaitu Bregada Wirobrojo, Patangpuluh, Prawirotomo, Ketanggung, Daeng, Jogokaryo, Nyutro dan Mantrijero. Bregada ini mengiringi gunungan dengan lampah macak (jalan pelan-pelan diiringi tetabuhan). Kemudian disusul Bregada Bugis yang bertugas memberi penghormatan dengan tembakan Salvo sebanyak tiga kali ketika Gunungan Lanang lewat. Dan Gunungan lanang ini dikawal oleh Bregada Sukokarso sampai Masjid Besar Kauman.
“senang rasanya bisa melihat grebeg ini meski hanya dari jarak jauh. Ini merupakan budaya adiluhung yang jarang bisa dilihat,” ujar Prapto dari Kebumen yang datang ke Yogya bersama rombongan guru-guru yang ditemui ketika istirahat di sebuah warung minuman tak jauh dari lokasi gunungan lewat. *** (Teguh R Asmara)