Close
 
Jumat, 12 Juni 2026   |   Sabtu, 26 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 493
Hari ini : 12.276
Kemarin : 20.067
Minggu kemarin : 227.151
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

12 oktober 2007 02:21

Pemerintah dan NU Besok, Muhammadiyah Hari Ini

Pemerintah dan NU Besok, Muhammadiyah Hari Ini
Komunitas An Nadzir melaksanakan salat id kemarin
di Batutudidia, Bontomarannu, Gowa, Sulawesi Selatan.
Jamaah pria rambutnya disemir pirang.

Jakarta- Sidang isbat (penentuan) yang digelar di Kantor Departemen Agama tadi malam memutuskan 1 Syawal 1428 Hijriah jatuh pada Sabtu (13/10). Putusan yang menjadi sikap pemerintah itu dibacakan oleh Menteri Agama Maftuh Basyuni.

Keputusan itu didukung MUI (Majelis Ulama Indonesia, PB NU (Nahdlatul Ulama), Persis (Persatuan Islam), Al Wasliyah, dan Sarekat Islam. Sedangkan PP Muhammadiyah tetap dengan keputusan awal mereka bahwa Idul Fitri 1428 Hijriah jatuh hari ini, Jumat (12/10).

Menag Maftuh Basyuni sempat meminta PP Muhammadiyah melaksanakan salah id pada Sabtu (13/10). "Berdasarkan usul dari Al Wasliyah agar tidak terjadi keresahan di masyarakat, saya menghormati PP Muhammadiyah yang berlebaran besok, tapi sebaiknya salat idnya lusa," pinta Maftuh. Menurut dia, salat id adalah ibadah sunah, tapi menjaga persatuan dan kesatuan, hukumnya wajib.

Menanggapi usul itu, anggota Majelis Tarjih PP Muhammadiyah Ma‘rifat Iman yang hadir dalam sidang itu, menjawab, "Saya mohon pemerintah menghargai sepenuhnya keputusan PP Muhammadiyah untuk berlebaran dan salat id besok (hari ini) karena pada masa Rasulullah pun tidak ada tradisi sekarang Lebaran besok baru salat id," ujarnya.

Muhammadiyah memutuskan mengakhiri puasa pada Kamis kemarin berdasarkan metode hisab wujudul hilal. Alasannya, ijtima‘ terjadi sebelum matahari terbenam dan ketika terbenam posisi matahari masih di bawah ufuk.

Sementara itu, pemerintah, PB NU maupun ormas Islam lain yang memutuskan 1Syawal jatuh pada Sabtu (13/10) menggunakan empat dasar. Pertama, posisi hilal di bawah batasan rukyat. Empat puluh perukyat dari Badan Hisab dan Rukyat Depag melaporkan tidak melihat hilal (bulan). Kedua, posisi hilal yang dilihat dari enam titik di seluruh Indonesia masih di bawah ufuk antara 0 derajat hingga 0,45 derajat.

Lalu, dengan posisi tersebut tidak mungkin memutuskan 1 Syawal 1428 Hijriah dengan metode rukyat sehingga akhir Ramadhan digenapkan menjadi 30 hari. Hingga kini, lanjut Menag Maftuh Basyuni, pemerintah Arab Saudi juga belum memutuskan kapan 1 Syawal karena mereka juga belum melihat hilal.

Dengan perbedaan itu, Menag meminta masyarakat tidak mengedepankan perbedaan tersebut. "Dua-duanya memiliki dasar hukum yang kuat," tegasnya. Namun, dia berharap penentuan 1 Syawal atau Lebaran tahun depan bisa sama. "Wapres kemarin sudah mempertemukan NU dan Muhammadiyah untuk mencari celah metode hisab dan rukyat yang bisa disamakan. Semoga pada pertemuan kedua di PP Muhammadiyah nanti perbedaan metode itu bisa dicarikan solusinya," ujarnya.

Sementara itu, PB NU menentukan 1 Syawal pada 13 Oktober 2007, atau sama dengan pemerintah. Menurut Ketua Umum PB NU KH Hasyim Muzadi, bersama pemerintah PB NU juga telah menurunkan tim rukyat di berbagai tempat. "Semua tempat telah kami sebar, dan tidak satu pun yang melihat hilal," jelasnya.

An Nadzir Lebaran Kemarin

Ternyata sudah ada yang berlebaran lebih awal. Mereka adalah jamaah dari Majelis An Nadzir di Gowa, Sulawesi Selatan. Kemarin ratusan anggota jamaah itu menggelar salat Idul Fitri di Lapangan Butta Didia, Kelurahan Romanglompoa, Kecamatan Bontomarannu, Gowa.

Ketika ditanya apa dasar An Nadzir menetapkan hari raya? Ustad Lukman, salah seorang pimpinan di komunitas itu, menyebutkan bahwa pihaknya berpatokan pada alam.

Sumber : Jawa Pos


Dibaca : 2.997 kali.

Tuliskan komentar Anda !