Close
 
Kamis, 11 Juni 2026   |   Jum'ah, 25 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 5.549
Kemarin : 20.067
Minggu kemarin : 227.151
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

20 maret 2015 10:26

IAI Telusuri Jejak Arsitektur Melayu di BKPBM Yogyakarta

Yogyakarta, Melayuonline.com - Memaknai sebuah atsitektur bernilai budaya Melayu merupakan kegiatan IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) Daerah Kepulauan Riau dalam Program Kegiatan Penelitian/ Pengkajian dan Rekam Jejak Arsitektur Melayu. Kegiatan ini terlihat dalam setiap kunjungannya ke berbagai tempat rumpun Melayu. Tujuan program tersebut untuk memperluas wawasan kebudayaan Melayu dalam rangka kerja IAI Daerah Kepri. Pada Kamis  19/3, IAI KEPRI melakukan kunjungan ke Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) di Yogyakarta.

Kunjungan IAI KEPRI di BKPBM sendiri memiliki maksud untuk menelisik arsitektur Melayu sebagai bagian dari budaya Melayu yang juga merupakan bagian dari budaya nasional, menjaga ketahanan budaya Melayu, nilai-nilai arsitektur budaya Melayu, dan melestarikannya demi masa depan budaya Melayu.  Di ruang pertemuan BKPBM diadakan pertemuan dan dialog budaya mengenai Artsitektur Melayu.  Ditemui oleh  Mahyudin Al Mudra, SH., MM., MA., (Ketua BKPBM), dan segenap staff BKPBM. Sementara itu tim Rekam Jejak Arsitektur KEPRI didampingi oleh R. Agung Sedayu (Ketua Rombongan), Ir. Yusuf Danuwidjoyo (Sekretraris IAI KEPRI), Martin Baron dll, Turut hadir pula dalam pertemuan ini Tengku Mira Sinar (Anggota IAI).

Ketua BKPBM, Mahyudin Al Mudra tengah memberikan pandangannya tentang arsitektur Melayu

Dialog budaya berlangsung menarik dan mengundang banyak apresiasi dari para peserta. Masing-masing perwakilan memaparkan bagaimana tipologi rumah Melayu yang ada, baik itu yang berada di wilayah Kepulauan Riau, Riau,  Kalimantan Barat, dan sejumlah wilayah rumpun Melayu Indonesia serta beberapa negara tetangga.

Sejauh ini masih sulit menemukan arsitektur yang Melayu di daerah Melayu. “Banyak sejumlah kota-kota yang mengaku Melayu, tetapi tidak memiliki arsitketur Melayu  dengan nuansa Melayu yang memangku adat menjemput zaman. Tentunya hal ini sangat memprihatinkan, padahal yang menjadi salah satu ciri kemelayuan adalah dari seni bina/ Arsitektur.” Papar Ketua BKPBM yang Kerap disapa Bang MAM.

Dari aspek arsitektur, nilai-nilai budaya perlu dikenal lebih awal. Dengan demikian sangat perlu menggali lebih dalam lagi bagaimana sesungguhnya rumah Melayu. Tentunya hal ini menjadi tugas Arsitek untuk melestarikan nilai-nilai budaya agar tetap bertahan berdiri sebagai jati diri. “Arsitek itu harus bisa mengenal jati diri wajah kota,” tandas Yusuf (Sekretraris IAI KEPRI).

Foto bersama anggota IAI Kepri dengan Bang MAM dan sebagian kru BKPBM

Dalam kesempatan ini Martin Baron memaparkan bahwa, terbangunnya kota Melayu utamanya memenuhi 6 unsur, yakni adanya istana, masjid, padang atau lapangan, pelabuhan, sungai, dan pasar. “Pola berdiri kota seperti ini sebagaimana yang ada di Malaysia ternyata memiliki kondisi yang hampir sama dengan yang ada di Lingga. Lingga ini sendiri juga dianggap sebagai bunda atau cikal bakal tipikal arsitektur Melayu”, tambah Martin. ***Juni Mahsusi


Dibaca : 4.159 kali.

Tuliskan komentar Anda !