Kamis, 30 April 2026 |Jum'ah, 13 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 823
Hari ini
:
17.403
Kemarin
:
22.835
Minggu kemarin
:
169.256
Bulan kemarin
:
101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
05 mei 2015 14:17
Dari Yogyakarta Tari Melayu Menyapa Nusantara
Yogyakarta, Melayuonline.com - Eksistensi budaya salah satunya dapat dilihat dari seringnya pernak-pernik suatu budaya muncul di permukaan dan dikenal oleh masyarakat luas. Hal yang paling terlihat dalam suatu kebudayaan ialah tradisi, baik berupa lisan, tari, musik dan lain sebagainya.
Dalam perbincangan bersama Rapi Arapat, salah satu pelestari budaya Melayu asal Siak Provinsi Riau pada Jumat, 01/5 malam di Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), ia mengatakan bahwa, “tari merupakan cerminan suatu budaya dikarenakan ragam gerak dan penyampaian cerita melalui gerakan terinspirasi dari adat istiadat suatu budaya”.
Rapi Arapat ialah salah satu mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta jurusan seni tari yang aktif menciptakan karya tari ataupun mengikuti kegiatan-kegiatan tari di Indonesia, khususnya di Yogyakarta. Selain sebagai koreografer, ia juga kerap membantu pementasan tari hingga ke luar daerah seperti Kalimantan bahkan ke negara tetangga Malaysia.
Rapat menjadikan Melayu sebagai dasar karya tari ciptaannya. Dia, yang merupakan keturunan Melayu Siak, mengaku bahwa rasa rindu akan kampung halaman akan terobati apabila lenggang-lenggok tari Melayu dapat ia ciptakan.
Dalam aktivitas seninya, Rapi merangkul sanggar-sanggar Melayu yang ada di Yogyakarta untuk menjadi bagian dalam proses kreativitasnya. Di antaranya, sanggar Hulu Badar Ikatan Pelajar Riau Komisariat Pelalawan, Sanggar Sultan Syarif Kasim Ikatan Pelajar Riau-Yogyakarta, dan lainnya.
Dalam peringatan Hari Tari Sedunia (World Dance Day) setiap 29 April di Solo ‘Menari 24 jam’, Rapi tidak pernah absen mengikutinya semenjak ia kuliah di Yogyakarta. Hal itu dilakukannya demi memperkenalkan tarian Melayu di ajang bergengsi Nasional tersebut. “Untuk kali ini saya menciptakan tarian yang berjudul ‘Umbut Muda’, menggarap tari ini dengan memadukan unsur gerak tradisional seperti joget, lenggang, zapin dengan gerak tari kotemporer”, jelas Rapi.
‘Umbut Muda’ merupakan kisah dari Siak yang menceritakan tentang anak durhaka. Tarian ini di tampilkan oleh 20 orang dengan durasi 19 menit dan diiringi musik live dari Sanggar Hulu Badar Ikatan Pelajar Riau Komisariat Pelalawan. Penampilan tarian ‘Umbut Muda’ pada World Dance Day di teater besar ISI Surakarta lalu, mendapatkan apresiasi besar dari penonton yang hadir saat itu.
Selain aktif mengikuti peringatan tari sedunia setiap tahunnya, Rapi dengan karya-karyanya juga kerap tampil dalam pementasan-pementasan bertaraf nasional lainnya. Sebagai seniman muda yang memiliki semangat tinggi memperkenalkan seni budaya, khususnya budaya Melayu, harapan mendapatkan perhatian dari pemerintah juga tidak luput dari pemikirannya.
Karya-karya yang pernah di ciptakan Rapi antara lain “H=H”, “Tun Teja”, “Selendang Cindai”, dan lain sebagainya. ***(Okikoto)