Close
 
Kamis, 11 Juni 2026   |   Jum'ah, 25 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 5.595
Kemarin : 20.067
Minggu kemarin : 227.151
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

04 juni 2015 03:09

Komisi II DPRD Kota Tanjungpinang Kunjungi BKPBM Yogyakarta

Yogyakarta, MelayuonlineSebanyak 6 orang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tanjungpinang Rabu 3/6 mengunjungi Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) Yogyakarta. Kedatangan rombongan adalah dalam rangka ramah tamah sekaligus ingin belajar dan mengenal lebih dekat  BKPBM Yogyakarta.

Hadir pada kesempatan tersebut Ketua komisi II DPRD Kota Tanjungpinang Hj. Mimi Betty, Wakil ketua komisi II DPRD Kota Tanjungpinang M. Syahrial, Badan Anggaran DPRD Kota Tanjungpinang Hasan, serta anggota komisi II DPRD Kota Tanjungpinang, Peppy Chandra, Hj. Rosiani, dan Reny. Turut serta bersama rombongan Sekretariat Dewan Kiki DS, dan Irwan.

Pembicaraan yang berlangsung sekitar 3 jam tersebut merupakan langkah awal DPRD Kota Tanjungpinang untuk kembali menjadikan Kepulauan Riau khususnya Kota Tanjungpinang sebagai daerah yang tetap berpegang teguh dan menjunjung nilai-nilai kebudayaan Melayu.

Dari BKPBM hadir ketua sekaligus pendiri BKPBM Yogyakarta, yaitu Datok Mahyudin Al Mudra, SH., MM.,MA., Ibu Martha Sinaga, Ibu Astrin Indriaswati selaku Manager dan beberapa karyawan. Kegiatan tersebut dimulai dengan memperkenalkan diri masing-masing kedua belah pihak dan dilanjutkan dengan sekapur sirih/perkenalan BKPBM.

Dalam sambutannya, ketua BKPBM menyampaikan pandangan sempit sejumlah pengamat Melayu selama ini. “Definisi Melayu saat ini memperkecil arti Melayu, puluhan tahun definisi Melayu yaitu orang-orang yang tinggal di semenanjung, berbudaya Melayu, berbahasa Melayu dan beragama Islam dianggap sebagai sebuah kebenaran mutlak yang akan berbenturan dengan para tokoh Melayu jika definisi tersebut diganggu gugat”, tutur Bang MAM sapaan dari Datok Mahyudin Al Mudra, SH., MM.,MA.

Selanjutnya beliau juga menerangkan, dengan adanya definisi yang keliru tersebut akhirnya Melayu menjadi semakin jauh antara yang satu dengan yang lainnya. Menurut beliau, apakah Suku-suku asli di pedalaman yang hingga kini masih tidak menganut agama tertentu tidak dapat dikatakan sebagai orang Melayu?. Apakah keberadaan Melayu hanya muncul setelah kedatangan Islam?.

Untuk menjawab peratanyaan tersebut, serta pertanyaan-pertanyaan lainnya, lahirlah sebuah Balai Kajian Melayu yang bertujuan untuk menggali, mengumpulkan, menjaga dan melestarikan kebudayaan Melayu baik yang masih wujud keberadaannya maupun yang pernah ada. Beliau juga menuliskan pokok pikirannya tersebut dalam meredifinisikan Melayu ke sebuah buku yang berjudul “Redifinisi Melayu; Upaya Menjembatani perbedaan konsep kemelayuan bangsa serumpun.

Walaupun tidak ingin berbenturan dengan tokoh-tokoh Melayu, keinginan ini hanya muncul agar Melayu dapat diterima semua kalangan” tambah beliau.

M. Syahrial Wakil ketua komisi II DPRD Kota Tanjungpinang mengungkapkan, kendala-kendala seperti kurangnya buku-buku Melayu, guru dan para ahli yang mengerti tentang “kemelayuan”. Selain itu ditambah lagi dengan tidak semua sekolah mengajarkan mata pelajaran muatan lokal, pada akhirnya membuat kebudayaan Melayu terasa asing di tanah Melayu itu sendiri.

Pada kesempatan M. Syahril menyayangkan keadaan jati diri Melayu di Tanjungpinang, “seharusnya Tanjungpinang dapat belajar dari Bali dalam melestarikan dan mengembangkan kebudayaan. Sehingga Tanjungpinang sebagai ibu kota Provinsi Kepri dapat menjadi Spirit of Kepri dalam memperkenalkan kebudayaan Melayu agar menjadi identitas daerah maupun identitas masyarakatnya” ungkap Syahrial.

Ia juga menerangkan bahwa kini Melayu mulai diorientasikan ke arah politik, ia juga berharap nantinya BKPBM Yogyakarta dapat bekerjasama dalam membantu mengembangkan kebudayaan khususnya Kota Tanjungpinang. Walaupun DPRD berorientasi politik, saat ini kami tidak mau jadi pengecap dan berusaha mengubah pandangan tersebut demi kemajuan daerah” pungkasnya.

Peppy Chandra turut mengatakan, perjuangan perlu dilakukan demi mengembangkan kesenian Melayu. Melihat keironisan yang kini terjadi, sangat menyedihkan dikarenakan di daerahnya sendiri “kemelayuan” itu malah tidak didapati. Para anggota DPRD tersebut juga mengungkapkan, kini orang-orang Melayu malah belajar Melayu di tanah Jawa (BKPBM Yogyakarta) ***(Okikoto)


Dibaca : 7.018 kali.

Tuliskan komentar Anda !