Close
 
Kamis, 30 April 2026   |   Jum'ah, 13 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 1.495
Hari ini : 24.565
Kemarin : 22.835
Minggu kemarin : 169.256
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

29 juli 2015 10:03

Gelar Budaya Jogja 2015: Inovasi Tari Klasik yang Tetap Berakar Baku


Tari Tugu Waseso (Foto: Trasmara)

Yogyakarta, Melayuonline.com – Pentas tari klasik Puro Mangkunegaran Surakarta dan tari klasik Kasultanan Yogyakarta memukau penonton yang terdiri para raja Surakarta dan Yogyakarta serta para wisatawan asing pada Gelar Budaya Jogja 2015 di Pagelaran Kraton Yogyakarta, Selasa (28/7) malam. Tari klasik dari Mangkunegaran yang dipentaskan adalah Wireng Mandradini dan Wireng Wiro Pratomo. Sedang tari klasik dari Kasultanan Yogyakarta ditampilkan tari Srikandi Swadewati dan Tugu Waseso.

“Saya berharap kehadiran para raja malam ini menjadi penyemangat upaya kreatif pembaruan seni tari klasik tanpa harus tercabut dari akar pakem bakunya,” kata Gubernur DIY Sultan Hamengku Bawono X pada pembukaan Gelar Budaya Jogja 2015 di Pagelaran Kraton Yogyakarta.


Tari Wira Pratomo (Foto: Trasmara)

Menurut Sultan, pentas tari klasik itu menjadi momen menuju rekonsiliasi budaya manunggalnya kembali Trah Mataram dari Catur Sagatra menuju Catur Sagotrah. Seperti diketahui, pada masa penjajahan, Belanda, karena takut dengan kebesaran Mataram, dengan politik devide et impera-nya, sengaja memecah Mataram menjadi dua kerajaan dan dua kadipaten. Dua kerajaan ini memiliki satu lambang, Dwi Naga Rasa Tunggal, dua naga yang menghadap ke arah barat dan timur tapi ekornya tetap bertaut menjadi satu. “Keempat entitas budaya itu disebut Catur Sagatra yang memiliki satu garis Trah Mataram sehingga menjadi pewaris sah budaya Mataram,” papar Gubernur DIY.

Dijelaskan oleh Sultan, seni tari klasik bersifat luwes dan lentur, tapi bermuatan magis dan sarat makna filosofi. Oleh karena itu, untuk mengenal nilai adiluhung sering dilakukan laku spiritual. Momentum gelar tari klasik ini tidak akan bermakna bagi pengembangan seni tari klasik jika berhenti hanya dalam merekam jejak para leluhur tanpa upaya menata tindak dengan memberi ‘ruh’ dan tafsir baru atas naskah-naskah lama untuk kemudian dikembangkan dalam pembaruan koreografi.


Tari Wireng Mandrarini (Foto: Trasmara

Tari Mandrarini menggambarkan adu kekuatan antara Ratu Suprabawati dan Dewi Genawati. Tari klasik ini diambil dari babad Panji yang diciptakan masa Mangkunegara VII. Penari menggunakan busana hijau dan kuning sebagai warna simbol Mangkunegara. Sedang tari Wira Pratomo diciptakan pada masa KGPAA Mangkunegoro V yang menggambarkan empat kesatria Pandawa Gatotkaca, Antasena, Abimanyu dan Irawan sedang melakukan gladi perang. Gatokaca dan Antaseno menggunakan senjata gada serta Abimanyu dan Irawan menggunakan panah.


Tari Srikandi Suradewati (Foto: Trasmara)

Tari Srikandi Swadewati dari Kasultanan Yogyakarta diambil dari epos Mahabharata ketika Dewi Srikandi melawan Patih Suradewati. Mereka beradu perang dengan naik burung garuda, dan Dewi Srikandi mampu mengalahkan Suradewati. Sedangkan beksan (tari) Tugu Waseso yang diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwono I dibawakan oleh empat penari putra dengan ragam gerak kalang kinantang. Senjata yang digunakan adalah tombak. Cerita yang diambil dari kisah Panji ini menggambarkan Prabu Tugu Waseso Raja Jenggala melawan Prabu Dasalengkara Raja Pudhak Sategal. Peperangan ini dimenangkan oleh Prabu Tugu Waseso.

Gelar Budaya Jogja 2015 berlangsung pada Selasa dan Rabu (28-29/7). Pada Rabu (29/7) malam ditampilkan tari klasik dari Kasunan Surakarta dengan tari Sancoyo Kusumawicitra dan tari Bandoyudha. Untuk tari klasik dari Puro Pakualaman menampilkan Langen Beksan Mintara. * (Teguh R Asmara)

Editor: Agus Najib Afwan


Dibaca : 2.528 kali.

Tuliskan komentar Anda !