Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
29 april 2007 02:47
Jejak Akulturasi Arab-Melayu-China
Jambi- Rumah almarhum Sayid Idrus Bin Hasan sudah sangat kumuh. Dinding-dindingnya dipenuhi lumut, langit- langit rumahnya pun rusak. Rumah itu sudah belasan tahun tak dihuni pemiliknya.
Inilah rumah batu pertama yang dibangun pada masa kolonial belanda. Pemerintah Provinsi Jambi telah menyatakan rumah tua bergaya campuran ini sebagai cagar budaya. Namun, jika kita menengoknya, seakan tak ada penghargaan terhadap rumah ini, selain sebuah papan bertuliskan rumah batu cagar budaya di depannya.
Rumah yang berlokasi di Kampung Olak Kemang, Pelayangan, Kota Jambi, ini dulunya milik Sayid Idrus, salah seorang penyiar agama Islam pertama yang masuk Jambi. Daerah Pelayangan atau seberang Jambi diyakini sebagai komune awal bertumbuhnya ajaran Islam. Para penyiar agama berasal dari Arab, salah satunya Sayid Idrus yang kemudian membangun sebuah rumah besar di sana. Banyak orang bilang, rumah itu dulunya istana. Pada masa penjajahan, rumah itu bisa dibilang yang termegah.
Pemiliknya mengundang seniman China untuk membentuk sejumlah ornamen naga dan ukiran barongsai di dinding rumahnya. Si seniman tampaknya juga ingin membaurkan gaya China dengan Melayu. Gayanya tampak pada bangunan di lantai dua yang berbahan kayu, dan jendela-jendelanya yang banyak pada hampir semua sisi. Ini memudahkan angin masuk, dan supaya pemilik rumah dapat mudah melihat ke luar, sambil duduk di lantai dekat jendela.
Selama masa itu, anak-anak dan menantu Sayid Idrus serta kaum keturunan Arab lainnya dididik agama secara kuat. Mereka berbaur dengan masyarakat Melayu, bahkan pendatang asal China. Penyebaran agama dipermudah dengan perkawinan. Kampung Arab Melayu bisa dibilang sebagai pusat perbauran pendatang Arab dengan Melayu. Sedangkan Kampung Tengah merupakan komunitas Arab yang kawin dengan perempuan-perempuan China. Komune ini terus berkembang hingga terbentuk kampung-kampung lain di sekitarnya yang merupakan hasil akulturasi yang damai, hingga mereka menganut agama Islam.
Tidak ada konflik pada masa itu. Malah sejumlah madrasah, pesantren, serta masjid banyak dibangun. Dari perkampungan ini jugalah banyak pendatang dari luar daerah belajar agama, dan kemudian kembali lagi ke daerah asal mereka untuk bersyiar.
Salah seorang keturunan Arab, Habib Al Musyawah, mendirikan empat madrasah, Nurul Islam, Nurul Iman, Tahtulyaman, dan Jauhareem. Sedangkan Sayid Idrus membangun Masjid Al Akhsaniyah, Olak Kemang, yang hingga kini masih tampak keagungannya. Sejumlah keturunan lainnya juga membangun masjid dan surau.
Kini, dalam ketuaannya, istana Sayid Idrus tak lagi ditempati. Mungkin kita hanya akan tinggal menunggu istana itu hancur termakan usia. (ITA).