Kamis, 30 April 2026 |Jum'ah, 13 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini
:
95
Kemarin
:
24.716
Minggu kemarin
:
169.256
Bulan kemarin
:
15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
31 juli 2015 08:35
Ritual Musik Mantra ‘Pangruwating Diyu’ di Omah Petruk
Anter Asmorotedjo melakukan tubuh mantra (Foto: Trasmara)
Sleman, Melayuonline.com – Ritual musik mantra ternyata bisa mempengaruhi pendengarnya bahkan mampu membuat orang tak sadarkan diri. Ini terjadi ketikaritual musik mantra ‘Pangruwating Diyu’ digelar di Omah Petruk milik budayawan Sindhunata di Karang Kletak, Wonorejo, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta, Kamis (30/7) malam. Dua penonton laki-laki dan perempuan kerasukan.
Kegiatan yang dilakukan ini merupakan sebuah upaya memadukan mantra dan musik dalam sebuah laku ritual dengan tujuan membebaskan diri dari kungkungan hawa nafsu yang bisa mempengaruhi manusia sewaktu-waktu untuk melakukan perbuatan jahat, culas, dan licik yang merugikan pihak lain. Bahkan bisa jadi memicu orang untuk mengidentifikasi diri sebagai manusia yang tak terkalahkan, ingin menang sendiri, sok kuasa, dan menganggap diri paling kuat dan benar.
“Mantra Pangruwating Diyu, kita berharap Nusantara bisa terbebaskan dari ‘diyu’ yakni raksasa yang bisa saja berwujud koruptor. Musik mantra ini bisa meruwat nusantara baik sosilogis maupun kosmologis,” papar Joko Santosa, penggagas musik mantra Pangruwating Diyu, dengan yakin.
Musik mantra ‘Pangruwating Diyu’ dimulai dari ritual jamasyang dilakukan Joko Santosa yang dikawal oleh para panderek(pengikut) yang memakai busana Jawa. Sementara karawitan Emperan Kahyangan pimpinan Pardiman Djoyonegoro melantunkan mantra dengan tembang-tembang Jawa. Mantra tembang Jawa ini memiliki arti bagi kehidupan manusia. Dimulai dari upacara usia hamil tujuh bulan yang disebut mitoni (tembang maskumbambang), salapanan/usia bayi 35 hari (tembang mijil), tedhak siten/bayi mulai berjalan (tembang kinanti), akil balik supitan/anak usia khitan (sinom), masa muda (asmaradana), kasmaran (gambuh), mituwa dan caraka sungsang (durma), kamituwa (pangkur), kesedan jati (megatruh) dan alam kubur (pocung).
Joko Santosa melakukan ritual jamas (Foto: Trasmara)
Untuk melengkapi musik mantra, penari Anter Asmorotedjo melakukan olah tubuh mantra. Tubuhnya meliuk-liuk mengikuti irama gending dan tembang yang dilantunkan Pardiman. “Musik mantra Pardiman Djoyonegoro menambah pengertian lain pada cakra panggilingan, yang merupakan perjalanan pembebasan dari paksaan nafsu dan watak raksasa yang selalu membelenggu manusia,” kata Sindhunata.
Cakra panggilingan menurut Sindhunata adalah ibarat nasib manusia yang berputar seperti roda. Kadang di atas kadang di bawah. Karena itu cakra manggilingan menjadi sebuah amsal moral. Manusia kalau sedang menemui kemuliaan jangan sombong. Sebaliknya jika dalam jurang kenistaan jangan hilang harapan, karena sewaktu-waktu kemuliaan akan datang.
“Saya menyiapkan ritual musik mantra hanya tujuh hari. Dan dipilihnya Omah Petruk sebagai sarana gelar, karena area disini sangat mendukung untuk ritual,” ujar Joko Santosa menambahkan.
Bagi Pardiman dan Joko sebenarnya tidak terlalu sulit menggarap ritual musik mantra, karena mereka pernah menggarap musik mantra 2 di Gedung PKKH (Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri) UGM bebrapa bulan lalu, yang melibatkan pentas teater dan puluhan penari. * (Teguh R Asmara)