Kamis, 30 April 2026 |Jum'ah, 13 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini
:
81
Kemarin
:
24.716
Minggu kemarin
:
169.256
Bulan kemarin
:
15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
31 juli 2015 07:59
Budaya sebagai Penentu Bangsa yang Kuat
Jakarta - Pembina Yayasan Suluh Nuswantara Bakti (YSNB) Pontjo Sutowo mengatakan bangsa yang kuat ditentukan oleh ketahanan budaya yang juga kuat.
"Bangsa yang tidak punya ketahanan budaya akan menjadi pecundang, sementara yang memiliki ketahanan budaya yang kuat akan menjadi bangsa yang kuat pula," kata Pontjo dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis.
Ia memberi contoh Korea yang maju dalam budaya dan juga ekonomi. Hal itu karena Korea bertekad mengalahkan Jepang. Kondisi Korea sama dengan Indonesia, yakni sama-sama pernah dijajah oleh Jepang.
"Dari segi apa pun, kita lebih kaya daripada Korea. Korea maju bukan sekadar ekonomi saja, melainkan juga budaya. Dibandingkan Korea, Indonesia lebih kaya. Akan tetapi, sayangnya budaya Indonesia kurang menonjol," katanya.
Contohnya jika di dalam diri masyarakat sudah tertanamkan budaya mencintai produk dalam negeri, globalisasi bukan lagi ancaman, melainkan peluang.
"Orang Jepang yang tinggal di Indonesia kalau membeli pasta gigi, pasti memilih produk Jepang karena mereka tahu dengan membeli produk dari negara mereka membuat pabrik tersebut hidup," katanya.
Kebangkitan ekonomi Jepang, Korea, dan Tiongkok, kata Pontjo, berbanding lurus dengan kebangkitan budaya bangsa. Budaya Jepang, Korea, dan Tiongkok dengan sistem nilainyalah mampu menjadi prasyarat utama pembangunan bangsa.
"Sayangnya, 70 tahun Indonesia merdeka, budaya bangsa terabaikan. Budaya Indonesia bahkan belum dapat dirumuskan serta sistem nilai yang diharapkan menjadi etos kerja bangsa pun belum umbuh dan berkembang," kata politikus Partai Golkar itu.
Yayasan Suluh Nuswantara Bakti juga akan menggali nilai-nilai keindonesiaan melalui diskusi panel yang diselenggarakan minggu pertama setiap bulannya.
Diskusi panel tersebut, akan mengundang para budayawan maupun cendekiawan dan diselenggarakan mulai 1 Agustus 2015 hingga 5 November 2016.
Diskusi panel tersebut akan menjadi diskusi terbesar dalam rangka mencari format nilai keindonesiaan di Tanah Air.