Kamis, 30 April 2026 |Jum'ah, 13 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 1.718
Hari ini
:
24.616
Kemarin
:
22.835
Minggu kemarin
:
169.256
Bulan kemarin
:
101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
03 agustus 2015 12:26
Festival Adat Budaya Yogyakarta: Teguhkan Nilai Kibarkan Wisata
Kontingen Gunung Kidul Juara Pertama
Upacara adat Wilujengan Gadhung Mlaten dari Gunung Kidul (Foto : Trasmara)
Yogyakarta, Melayuonline.com – Upacara adat tiap tahun banyak dilakukan di desa-desa di kawasan Yogyakarta, bahkan sudah terbukti memiliki daya magnet yang besar bagi dunia pariwisata sehingga mampu mengundangminat banyak wisatawan asing untuk menyaksikan, apalagi belakangan ini banyak dikemas secara apik lewat gelaran budaya. Untuk mendukung dan mendorong pelestarian upacara adat berbasis budaya ini, Dinas Kebudayaan DIY mengadakan Festival Upacara Adat.Tahun 2015, festival ini merupakan yang ketiga kalidan berlangsung di halaman Balaikota Timoho Yogyakarta, Sabtu (1/8) sore.
“Selain pelestarian dan aktualisasi ekspresi, upacara adat memberikan dorongan pada para pelaku untuk lebih gigih menggali dan eksplorasi nilai-nilai tradisi sesuai dengan latar historis,” papar RM Donny Surya Megananda, Koordinator Pelaksana Festival.
Upacara adat menjadi sebuah atraksi budaya dengan tidak mengubah nilai-nilai esensialnya. Fokusnya pada pengemasan ke masyarakat menjadi sebuahpertunjukan yang menarik dan komunikatif, baik lewat tari maupun teatrikal.
Upacara adat Merti Sendang Tohino dari Sleman (Foto: Trasmaran)
“Festival ini merupakan produk kebudayaan lokal yang memiliki fungsi penguatan relasi manusia dengan Tuhan, identitas budaya, dan pengembangan pariwisata,” ujar Donny.
Festival Upacara Adat ini diikuti empat kabupaten dan kota di DIY. Sebelum berlaga di festival, kontingen peserta melakukan pawai dari timur gedung olah raga Amongraga menuju Balaikota Timoho lewat Jl. Kenari. Festival ini memunculkan kontingen Gunung Kidul sebagai juara I lewat persembahan upacara adat ‘Wilujengan Gadhung Mlaten’. Upacara adat ini menceritakan babad alas, membuka lahan baru untuk pemukiman dengan menebang dan membersihkan hutan yang angker penuh jin yang dilakukan oleh masyarakat. Daerah baru itu kemudian bernama Wonosari, yang saat ini menjadi ibukota Kabupaten Gunung kidul.
Upacara adat Midhang Siraman Sendhang Pengilon dari Kulon Progo (Foto: Trasmara
Tiap kontingen dibatasi 125 personel yang merupakan gabungan kelompok seni dan masyarakat pelaku upacara adat dan tampil dalam waktu 25 menit. Para juri yang menilai festival ini adalah Prof. Dr. Sumandiyo, Drs. Djoko Dwiyanto, M. Hum, Dr. Moch Dawami, Drs. H. A. Charris Zubair, MA, dan Drs. Suharjoso, M.Hum.
Juara selengkapnya, Gunung Kidul juara I,Sleman juara II dengan upacara adat Merti Sendang Tohino. Juara III diraih Kota Yogyakarta dengan upacara adat mBedol Keprajan Kota Gede. Juara harapan I Bantul dengan upacara adat Bakda Mangiran Srandakan, sedangkanjuara harapan II Kulon Progo dengan upacara adat Midhang Siraman Sendhang Pengilon. *(Teguh R Asmara)