Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
10 agustus 2015 07:59
Enam Tahun Mengenang Rendra Bertabur Puisi
Sitoresmi Prabuningrat baca puisi ‘Nyanyin Suto untuk Fatimah’ (Foto: Trasmara)
Bantul, Melayuonline.com – Suaranya mantap, vokalnya menyatu dan ekspresi sesuai dengan puisi yang dibawakannya. Itulah Sitoresmi Prabuningarat ketika membaca puisi ‘Nyanyian Suto untuk Fatimah’ kaya WS Rendra di tengah peringatan enam tahun meninggalnya WS Rendra di Sanggarbambu, Tempuran, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, Sabtu (8/8) malam. Sitoresmi yang mantan istri Rendra ini, mengenakan busana muslim longdress warna hitam dan jilbab jingga.
Bertajuk ‘Rendra hadir di Sanggarbambu’ banyak dihadiri para seniman perupa, penyair, dan pengamat budaya. Bahkan mantan Bupati Bantul Ny. Sri Surya Widati hadir dan mengungkapkan kekagumannya pada Si Burung Merak ini. “Saya ketemu beliau selalu memakai baju hitam,” kenang Ny. Widati ketika diminta memberi sambutan.
Mengenang 6 tahun meninggalnya Rendra ini dibuka dengan hymne Sanggarbambu ‘Maju Perang’ yang merupakan puisi Rendra yang tidak ditemukan dikumpulan buku puisi. “Ini khusus diciptakan Mas Rendra,” kata Untung Basuki yang melantunkan lagu dengan petikan gitar dan dinyanyikan bersama oleh anggota Sanggarbambu.
Untung Basuki memimpin hymne ‘Maju Perang’. (Foto: Trasmara)
Fajar Suharno yang mantan anggota Bengkel Teater memaparkan keunikan WS Rendra dalam mengolah teater dengan disiplin tinggi. “Mas Rendra mendirikan Bengkel Teater setelah pulang dari Amerika,” katanya menerawang.
WS Rendra yang kelahiran Solo 7 November 1935 dan meninggal 6 Agustus 2009 karena menderita jantung koroner di RS Mitra Keluarga Depok, Jabar. Semasa hidupnya banyak membawa kejutan terutama dalam pentas teater seperti Oedipus Sang Raja terjemahan Sopokles dari judul asli "Oedipus Rex", kemudian mementaskan Hamlet, Macbeth, Sekda, Mastodon dan Burung Kondor.
“Yang paling menarik ketika mas Rendra membuat mini kata serta kemah Kaum Urakan di Pantai Parangtritis, yang kemudian menjadi model teater-teater baru berlatih di pantai,” papar Fajar Suharno.
Disamping musik dari Untung Basuki, beberapa tamu undangan membacakan puisi-puisi WS Rendra dari tahun 1959 sampai tahun 2009 menjelang kematiannya. Puisi yang ditulis untuk terakhir kali berjudul ‘Tuhan Aku Cinta Padamu’. * (Teguh R Asmara)