Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
19 agustus 2015 07:47
Berpuisi di Yogya ‘Suluk Senja’ Membawa Berkah
Dimas Indiana ketika baca puisi (Foto: Trasmara)
Yogyakarta, Melayuonline.com – Musik puisi dari Kopi Basi akan meramaikan Bincang-bincang Sastra (BBS) yang digelar oleh Studio Pertunjukan Sastra (SPS), Minggu (23/8) di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Disamping musik puisi akan ada pembacaan puisi oleh penyair Ulfatin CH, Eka Anggraini, Dinar Suci Mayaratih, Retno Iswandari dan Umi Kulsum yang akan membacakan puisi Dimas Indiana Senja.
BBS akan meluncurkan antologi puisi Suluk Senja karya Dimas Indiana Senja yag akan dibedah oleh Bustan Basir Maras dan dipandu Eka Safitri. Dimas Indiana,penyair muda berprestasi kelahiran Brebes bernama asli Dimas Indianto S. Ini, mengaku belajar menulis puisi kepada penyair Abdul Wachid B.S. sekitar tahun 2010 berawal pertemuan sebagai mahasiswa dan dosen di STAIN Purwokerto (kini IAIN Purwokerto). Latar belakang pesantren dan sejumlah kejuaraan baca puisi yang ditekuni sebelumnya rupanya telah banyak memengaruhinya dalam memantapkan kariernya untuk menulis sastra, terutama puisi. Proses kepenyairannya dimatangkan dalam program pesantren Mahasiswa kepenulisan yang digagas Dr. Moh Roqib, pengasuh Pesantren Mahasiswa An Najah.
“Berkat puisi saya bisa menyelesaikan studi S-2 di UIN Sunan Kalijaga Yogya,” kata Dimas pada Melayuonline, Selasa (18/8) petang.
Puisi Suluk Senjaadalah antologi puisi yang kedua setelah antologi puisi Nadhom Cinta tahun 2012 yang juga diluncurkan di acara Bincang-bincang Sastra SPS. Menurut Dimas, Puisi telah membawanya ke mana-mana. Keliling Indonesia. “Di Yogya saya semakin mantap dengan jalur sunyi yang saya pilih ini. Yogya telah memberi saya ruang bertegur sapa yang tidak didapatkan di daerah lainnya. Atmosfir kreativitas sastra di Yogya begitu tebal, ditunjukkan dengan banyaknya acara sastra dan banyaknya sastrawan yang lahir di kota istimewa ini,” papar Dimas Indiana.
Sebagian besar puisi dalam antologi itu ditulis di Yogya. “Setelah peluncuran Suluk Senja saya akan kembali ke Purwokerto, dan tentu saya sangat merindukan semangat bersastra di Yogya,” tambahnya.
Mustofa W. Hasyim selaku Ketua SPS menyatakan, generasi muda sastra harus dipupuk biar tidak pupus. Acara ini adalah simbol semangat ulang tahun ke 70 kemerdekaan RI. Semoga generasi muda bangsa ini mampu berjuang untuk menjaga kebudayaan dan kemerdekaan Indonesia.* (Teguh R Asmara)