Close
 
Jumat, 30 Oktober 2026   |   Sabtu, 18 Jum. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 3.199
Kemarin : 35.617
Minggu kemarin : 9.404
Bulan kemarin : 45.610.426
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

28 sepember 2015 03:37

Teater Sarang Burung Raih Penyaji Terbaik FTJ 2015


Teater Sarang Burung dengan lakon Bla Bla Bla (Foto: Trasmara)

Yogyakarta, Melayuonline.com – Bendera pusaka yang tersimpan dalam sebuah kotak dan akan dikibarkan, hilang. Raja yang ditunggu-tunggu ternyata hilang pula. Para prajurit panik. Kemudian muncul sekelompok veteran pejuang yang mengaku menyimpan bendera pusaka itu, ternyata bendera pun hilang. Maka dengan gegap gempita, para prajurit menyemangati dengan lagu-lagu perjuangan. Adegan itu merupakan sepenggal lakon ‘Bla Bla Bla’ yang dimainkan oleh Teater Sarang Burung pada Festival Teater Jogja (FTJ) yang digelar di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY) dari Jumat - Minggu (25-26 dan 27/9).

Dengan lakon Bla Bla Bla inilah Teater Sarang Burung dinyatakan sebagai penyaji terbaik pertama dari lima peserta kelompok teater yang mengikuti FTJ. Empat kelompok teater lainnya adalah Teater Es Campur (lakon: Bahari Haru), Teater Suto (Dalimin), dan Teater Sawo Mateng (Saksi Bisu dan Rasa-rasa yang Bicara).

Selain memilih penampil terbaik, dewan juri yang terdiri dari Lono Simatupang, Dede Pramayoza, dan Sinta Febriyani ini juga mentahbiskan sutradara terbaik, pemeran putra terbaik, pemeran putri terbaik, artistik terbaik, naskah terbaik, penata musik terbaik, dan penata rias dan busana terbaik.

“Ada ide-ide bagus dalam teks tapi ketika diujudkan dalam pentas menjadi tidak baik. Demikian pula ada ide yang sederhana tapi ketika dipentaskan jadi luar biasa,” kata Lono Simatupang, Ketua Dewan Juri ketika mengumumkan para pemenang di Panggung Terbuka halaman TBY, Minggu (27/9) malam.

Menurut Lono Simatupang, kreativitas para peserta tidak dibatasi apakah naskah itu ditulis sendiri atau tidak, sebab dalam ketentuang tidak ada. “Kerja kreatif itu bukan melulu penciptaan sendiri. Adaptasi, terjemahan itu perlu kreativitas sekalipun bukan membuat naskah sendiri,” kata Lono yang ditemui Melayuonline usai mengumumkan para pemenang.

FTJ 2015 merupakan tahun ke tujuh dengan mengangkat tema Jogja Masa Depan yang dijadikan rujukan atas isu-isu sosial, budaya, politik, ekonomi dan kehidupan sosial keagaam di Yogyakarta. Peserta FTJ 2015 ini merupakan wajah baru dalam festival ini.

“Kelompok teater yang tampil ini adalah kelompok yang belum pernah tampil dalam festival teater yag digelar oleh TBY,” kata Diah Tetuko Suryandaru, Kepala TBY.

Tampilnya kelompok teater baru itu sangat menggembirakan bagi perkembangan teater di Yogya. Apalagi selama FTJ berlangsung di TBY antusias penonton dari generasi muda sangat positif. Pada penutupan FTJ ditampilkan eksibisi dari kelompok Gunung Puyuh, Panjangrejo, Pundong dengan menampilkan Nyadran Kang Sejo Melihat Tuhan. *(Teguh R Asmara)


Dibaca : 1.062 kali.

Tuliskan komentar Anda !