Close
 
Sabtu, 17 Januari 2026   |   Ahad, 28 Rajab 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 49.292
Kemarin : 182.675
Minggu kemarin : 1.046.639
Bulan kemarin : 128.832
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

20 oktober 2007 03:57

Hormati Arwah Leluhur, Berteman Sayur Santan dan Ikan Haruan

Tradisi Lebaran Ketupat Kini Terus Dipertahankan
Hormati Arwah Leluhur, Berteman Sayur Santan dan Ikan Haruan

Samarinda- Salah satu tradisi yang nyaris tak pernah ditinggalkan setelah seminggu merayakan Lebaran Idul Fitri adalah lebaran ketupat. Walaupun yang merayakan tidak semua kalangan, tetapi nuasanya tetaplah sakral.

Tidak ada yang persis mengetahui asal muasal tradisi lebaran ketupat dan kenapa disebut demikian. Apakah karena beras atau ketan yang dibungkus dengan ketupat terbuat dari janur atau daun kelapa ataukah ada sejarah lainnya.

Tetapi di kalangan masyarakat Jawa, lebaran ketupat yang biasa dirayakan seminggu setelah melaksanakan lebaran Idul Fitri, terasa sudah menjadi kewajiban. Sehingga rasanya ada yang kurang bila Lebaran Idul Fitri tanpa diakhiri dengan lebaran ketupat.

"Saya sendiri tidak tahu bagaimana asal muasal lebaran ketupat. Tetapi sejak saya kecil, rasanya sudah dilakukan. Tetapi menurut saya, lebaran ketupat itu dirayakan hanya sebagai tanda bahwa lebaran Idul Fitri sudah berakhir atau seminggu setelah lebaran Idul Fitri dan bersiap menghadapi hidup yang baru. Hingga bertemu bulan Ramadan lagi dan Idul Fitri kembali," kata Dewi Sujiah, warga Perum Sambutan Permai.

Nenek yang berumur sekitar 75 tahun itu kembali menuturkan, ada seperti kewajiban yang harus dilakukan saat lebaran ketupat. Yakni membuat ketupat baik yang berasal dari beras atau lepet atau ketan. Sementara sayurnya beragam. Tak ada kreteria khusus. Tetapi biasanya menggunakan sayur santan.

"Untuk makanan yang disajikan memang tidak ada yang khusus, tetapi untuk ketupat dan lepet memang harus dibuat, walaupun cuma beberapa buah. Saya saja hanya membuat sekitar 20 ketupat, menggunakan sekitar setengah kilogram beras. Begitu juga dengan lauk pauknya. Ada sayur santan, ikan haruan, ayam dan daging juga pakai telur sudah cukup," tuturnya lagi.

Biasanya yang datang ke rumahnya adalah tetangga sekitar rumah atau bahkan teman-temannya yang mengetahui kalau keluarga itu merayakan lebaran ketupat.

"Awalnya tak mau merayakan, karena malas membuat ketupatnya. Tapi beberapa teman dan tetangga menghubungi apakah tahun ini merayakan lebaran ketupat, jadi ya buat saja. Walaupun cuma sedikit, yang pentingkan ada," tambah Yanti, anaknya.

Sebenarnya tradisi merayakan ketupat bisa bermacam-macam, tergantung keyakinan masing-masing. Menurut Sujiah, kalau mengikuti tradisi terdahulu, ketupat atau lepet yang dibuat itu digantung di depan pintu masing-masing 2 buah. Untuk menandakan merayakan lebaran ketupat atau ada juga yang mengartikan sebagai penghormatan kepada arwah leluhur.

"Sebagian masyarakat Jawa masih ada yang mempercayai hal itu, tetapi sepertinya sudah mulai ditinggalkan. Kalau di daerah Jawa, mungkin masih banyak yang melakukan. Menggantungkan ketupat atau lepet di atas pintu, sebagai penghormatan kepada arwah leluhur kita," ungkap wanita yang masih kuat berjalan dan mengemong cucu itu lagi.

Sumber : www.sapos.co.id
Kredit foto : upload.wikimedia.org


Dibaca : 2.243 kali.

Tuliskan komentar Anda !