Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
21 oktober 2015 04:36
Buruh Migran dari Singapura Launching Antologi Puisi
Melur Seruni
Bantul, Melayuonline.com – Jarang ada keberanian seorang buruh membuat antologi puisi dan dilaunching. Tapi bagi Melur Seruni, buruh migran Singapura asal Magelang,memberanikan diri melaunching antologi puisinya ‘Jejak Kelana’ di Tembi, Bantul, Yogyakarta.
Seruni tidak sendirian. Ia bersama tiga penyair dari tiga kota lainnya melaunching empat antologi puisi pada Sastra Bulan Purnama, Kamis (28/10).Empat antologi puisi itu berjudul ‘Sihir Cinta’ karya Wieranta, penyair dari Solo; ‘Dari Cinta ke Negara’ karya Suyitno Ethek, penyair dari Mojokerto; ‘Dendang Jalan Sunyi’ karya para penyair dari Surabaya; dan antologi puisi Seruni sendiri.
“Kebetulan Melur Seruni pulang ke Magelang sekaligus menerbitkan antologi puisi. Dari tempat tinggal di Singapura dia rajin mengikuti aktivitas Sastra Bulan Purnama (SBP) melalui facebook. Dia memang banyak berteman dengan komunitas Sastra Bulan Purnama”, kata Ons Untoro, Koordinator SBP, Senin (20/10).
Tajuk dari Sastra Bulan Purnama edisi 49 ini “Jejak Cinta di Jalan Sunyi”, rangkuman dari judul antologi puisi yang akan dilaunching.Selain pembacaan puisi, akan tampil pula pertunjukan lagu puisi yang akan dibawakan oleh Doni Suwung dan Kelompok Jejak Imaji. Satu pertunjukan monolog akan dimainkan Aming Simatupang, seorang aktris teater dari Yogyakarta. Masing-masing akan mebawakan 3 dan 2 lagu puisi.
Selain para penyair yang akan membacakan puisi karyanya, akan tampil juga pembaca lain dan akan membacakan puisi para penyair yang antologi puisinya dilaunching.‘Jejak Kelana’ karya Seruni ini menyajikan potret kehidupan yang dia jalani, yang dalam istilah Seruni, mengabadikan momen-momen yang dialami.
Dijelaskan oleh Ons Untoro, SPB memberi ruang pada para penyair yang menerbitkan antologi puisi untuk dikomunikasikan kepada publik secara langsung dalam bentuk membacakan puisi yang ada di dalam antologi, melagukannya atau bahkan mengolahnya menjadi dramatisasi puisi. *(Teguh R Asmara)