Close
 
Jumat, 19 Juni 2026   |   Sabtu, 3 Muharam 1448 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 7.853
Kemarin : 25.082
Minggu kemarin : 184.896
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

20 oktober 2007 00:52

Lebaran Ketupat Warga Keturunan Jawa di Palu

Lebaran Ketupat Warga Keturunan Jawa di Palu

Palu- Walaupun di Kota Palu, tradisi lebaran ketupat masih kurang popular, namun sebagian warga keturunan jawa, Kamis kemarin (18/10), tampak mulai bersiap-siap untuk melaksanakan lebaran ketupat yang rencanakan akan dilaksanakan hari ini.

Bagong (50) warga di jalan Sriwijaya, adalah salah satu warga keturunan Jawa yang berusaha untuk tetap mempertahankan tradisi melaksanakan lebaran ketupat setiap tahunnya.

Katanya, sejak pindah di Kota Palu 16 tahun yang silam, bapak dua anak ini, mengaku tidak pernah absen merayakan tradisi leluhurnya itu di setiap pekan pertama Syawal.

Saat bertandang ke rumah milik Bagong kemarin, tampak keluarga yang rumahnya tepat berada di samping Masjid Nurhasanah itu, sedang sibuk membuat ketupat.

Tangan istri Bagong, Kholifah (40) dengan lincahnya menyelipkan daun kelapa untuk dijadikan ketupat dengan ditemani kakaknya Sumilah. Sumilah sengaja datang ke Palu untuk membantu sang kakak, menyiapkan perayaan lebaran ketupat di rumahnya.

Bagi Kholifah, lebaran ketupat merupakan tradisi leluhur keluarganya yang ingin tetap dipertahankannya. Wanita yang sebelumnya berdomisili di Desa Karya Mukti Kecamatan Damsol Kabupaten Donggala itu, mengatakan, dalam lebaran ketupat, adalah momen untuk memanjatkan doa kepada sang Khalik, yang dalam bahasa jawa disebut kendurenan. Katanya, kendurenan adalah acara yang dihadiri warga secara berbondong-bondong dengan memunajatkan doa agar diri, keluarga dan warga selamat dari musibah.

Selain itu, lebaran ketupat dianggap sebagai hari raya bagi orang yang berpuasa Syawal. Tapi bagi Keluarga Bagong lebaran ketupat tidak mutlak harus berpuasa syawal.

"Ya kita laksanakan lebarannya saja, puasanya belum. Tapi kalau bapak, pasti sudah puasa," tambah Kholifah.

Dalam puncak perayaan lebaran ketupat Sabtu ini, seluruh keluraga serta warga di sekitar rumahnya, diundang untuk merayakan bersama lebaran ketupat. Namun sebelumnya, Bagong beserta keluarga akan melaksanakan acara selamatan yang diiringi dengan pembacaan doa.

"Setelah itu, ketupat dan menunya seperti lontong, lepet, kari ayam, sayur serta menu lain, dibagikan setengahnya kepada warga," aku Bagong.

Kesibukan keluarga Bagong menyambut lebaran ketupat, ternyata tidak demikian dengan sebagian warga keturunan Jawa yang ada di beberapa tempat. Di antaranya warga yang ada di Lorong Bakso, yang mengaku tidak merayakan acara yang dirayakan tujuh hari setelah Idul Fitri itu.

Ketua RT 1 RW 2 Lorong Bakso Moelyono, mengatakan warganya jarang merayakan lebaran ketupat. "Meski banyak warga keturunan Jawa, warga di sini jarang merayakan lebaran ketupat," kata Moelyono di rumahnya Kamis sore kemarin (18/10).

Menurutnya, tradisi lebaran ketupat, kurang populer bagi warganya. Alasannya untuk bisa merayakan lebaran ketupat, butuh dana ekstra.

Sumber : www.radarsulteng.com
Kredit foto : www.geocities.com


Dibaca : 2.720 kali.

Tuliskan komentar Anda !