Selasa, 16 Juni 2026   |   Arbia', 30 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 310
Hari ini : 7.978
Kemarin : 17.248
Minggu kemarin : 184.896
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

16 november 2015 02:55

Teater Stemka Pentaskan Dramatic Reading ‘Godlob’


Para pendukung dramatic reading ‘Godlob’

Yogyakarta, Melayuonline  Cerita pendek (cerpen) karya Danarto tak mudah dicerna dan perlu pemikiran yang jernih. Salah satu cerpen Danarto berjudul ‘Godlob’ akan dicoba dibaca secara dramatic reading, pembaca cerpen bukan satu orang tapi lebih. Pembacaan ini akan dipentaskan pada Rabu (18/11) malam di Tembi Rumah Budaya, Bantul.

Dramatic reading ini akan dilakukan oleh Teater Stemka yang dikenal tahun 70-an. Para pemain terdiri  Yantoro selaku sutradara, Landung Simatupang sebagai supervisor.  Para pemain lainnya, Ami Simatupang selaku narator 1, Savitri Damayanti narator 2. Pritt Timothy memerankan ayah dan Rere Rully memerankan ibu. Selain bertindak sebagai sutradara, Yantoro memerankan sebagai anak.

Menurut Landung Simatupang, Minggu (15/11), Godlob, sebagai salah satu cerpen sempat menggoyang jagad sastra Indonesia ketika muncul menjelang akhir 1960an. Ditulis bulan Agustus 1967 dan dimuat di majalah sastra Horison edisi Januari 1968. Cerpen ini menarasikan dan menampilkan tokoh-tokoh yang berkubang dalam tragedi kemanusiaan berupa perang. Setting tempatnya adalah medan pertempuran, dengan lingkungan alami yang rusak porak-poranda, mayat-mayat terserak membusuk. Gerombolan-gerombolan gagak berkaok, berpesta dari tumpukan mayat satu ke tumpukan lain.

Seorang ayah yang menemukan anaknya luka parah berniat menyelamatkannya. Dinaikkan ke gerobak yang ditarik kerbau, dibawa keluar dari medan tempur. Tapi kemudian si ayah, yang sudah kehilangan 3 anaknya yang lain, memutuskan membunuh si anak terakhir ini supaya diakui sebagai pahlawan.

Dan benar, ia diangkat sebagai pahlawan, si anak dimakamkan dengan upacara militer. Tapi hari berikutnya, ibu si anak menggali kubur itu, membopong si mayat ke depan balai kota, dan membuka kepalsuan serta kebohongan "sang pahlawan".

Danarto dikenal sebagai perintis penulisan magic realism dalam sastra Indonesia, sekaligus pelukis yang merintis seni rupa instalasi. Kiprahnya di dunia seni pertunjukan pun sangat mengesankan. Antara tahun 1960an sampai pertengahan 70an ia menyumbangkan rancangan artistik untuk pergelaran Rendra, Arifin C. Noer, dan Sardono W. Kusumo yang membuat publik di Eropa dan Iran terkesima. Kemudian ia menulis lakon untuk teater bentuk baru, ‘Obrog Owok-Owok Ebreg Ewek-ewek’ (1973). Juga menulis, menyutradarai, dan membiayai pergelaran ‘Bel Geduwel Beh’ yang melibatkan puluhan pemain di TIM tahun 1978. *(Teguh R Asmara)


Dibaca : 917 kali.

Tuliskan komentar Anda !