Close
 
Selasa, 16 Juni 2026   |   Arbia', 30 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 181
Hari ini : 7.102
Kemarin : 17.248
Minggu kemarin : 184.896
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

05 desember 2015 05:11

Sendratari ‘Tampah Sego Gurih’ Membuka Sekaten 2015


Sendratari ‘Tampah Sego Gurih’ (Foto: Trasmara)

Yogyakarta, Melayuonline.com – Puluhan penari pria keluar membawa payung dengan gerak tari yang dinamis. Sementara para wanita membawa tampah menari dengan lenggak-lenggok menuju ke depan para tamu. Dan tarian itu ditutup dengan memanggul salah satu penari pria yang duduk di tengah bentangan tangan. Itulah sendratari ‘Tampah Sego Gurih’ garapan para siswa SMKI Bantul pada pembukaan Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) di Alun-alun Utara Yogyakarta, Jumat (4/12) sore.

Pembukaan PMPS yang menempati lahan yang berhadapan dengan Masjid Besar Kauman itu dibanjiri penonton dari berbagai daerah. PMPS yang berlangsung selama 21 hari (4 - 24 Desember 2015) diikuti 843 stand atau 98 persen. “Ini pencapaian yang sangat membanggakan. Dan PMPS berlangsung hanya 21 hari itu karena penataan Alun-alun Utara yang belum selesai,” kata Haryadi Suyuti, Walikota Yogyakarta.

Dengan tema ‘Harmoni Budaya, Relijius, Ekonomi untuk Yogya Istimewa’ menurut Haryadi Sekaten memiliki filosofi dan hidup ideal. Sekaten merupakan ekspresi budaya dari berbagai daerah yang tampil dengan berbagai kesenian.

“Sekaten ditandai dengan keluarnya gamelan Guntur Madu dan Nogowilogo dari Kraton Yogya ke Pagongan di halaman Masjid Besar Kauman Yogya, Dan itu menandai peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW,” tambahnya.

PMPS yang dibuka oleh Asekda II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda DIY, Didik Purwdi dengan pemukulan kenong, sebelumnya meminta pada generasi muda untuk tetap mencintai budaya Jawa. Budaya yang tidak terlepas dari agama.

“Sekaten mengandung budaya relijius sebagai upaya Sunan Kalijaga dalam penyebaran agama Islam,” kata Didik menengok sejarah awal sekaten.

Selama ini potensi Yogya dalam pengembangan budaya Jawa tidak diragukan lagi. Kearifan lokal yang dimilikinya merupakan kebudayaan masyarakat yang harus dipelihara terus menerus. *(Teguh R Asmara)


Dibaca : 1.013 kali.

Tuliskan komentar Anda !