Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
22 oktober 2007 08:19
Tradisi Syawalan di Maluku Tengah, Duel dengan Sapu Lidi
Maluku Utara- Warga Desa Mamala dan Desa Morela, Kecamatan Laihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, mempunyai tradisi unik setelah Hari Raya Idul Fitri atau yang dikenal dengan Lebaran 7 Syawal. Mereka selalu menggelar ritual budya Pukul Sapu. Setiap tahun pula ribuan orang selalu menyaksikan ritual yang sudah berlangsung ratusan tahun secara turun temurun ini.
Para pemuda yang mengikuti ritual Pukul Sapu ini, membawa sapu lidi enau yang telah dipersiapkan sehari sebelumnya. Sebagai penghormatan, sebelum ritual dimulai sejumlah tamu undangan mencambuk penari dengan sapu lidi yang sudah diberi mantera.
Peserta yang mengikuti ritual ini tidak hanya penduduk setempat, namun juga warga keturunan yang bermukim di negeri Belanda. Mereka kemudian dibagi dua kelompok yang dibedakan dengan ikat kepala merah dan putih. Para penari kemudian saling mencambuk hingga luka-luka.
Uniknya, luka-luka ditubuh mereka tidak menyurutkan semangat para penari. Diiringi tabuhan musik tifa atau gendang, para penari terus menghujamkan lidi ke tubuh lawannya.
Ritual budaya Pukul Sapu ini digelar sebagai simbol kemenangan setelah melaksanakan ibadah puasa selama sebulan dan puasa 7 Syawal. Tradisi ini telah dilakukan secara turun temurun sejak ratusan tahun silam. Meski tubuh para penari penuh luka-luka namun mereka tidak merasa kesakitan sedikitpun dan dendam terhadap lawannya.
Bahkan luka yang diderita akibat cambukan sapu lidi, hilang sekejap setelah diolesi minyak kelapa yang dibuat khusus oleh para tetua adat. Minyak inipun menjadi rebutan warga. Pasalnya minyak ini dipercaya mampu menyembuhkan berbagai luka dan patah tulang. Konon minyak ini digunakan untuk menyambung tiang Masjid Mamala yang patah. Namun minyak ini tidak boleh diperjualbelikan.