Senin, 15 Juni 2026   |   Tsulasa', 29 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 4.461
Kemarin : 17.248
Minggu kemarin : 184.896
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

20 januari 2016 05:53

Sepuluh Perupa Baca Puisi di Tembi


Pelukis Nasirun (kanan) bersama Sindhunata (Foto: Trasmara)

Bantul, Melayuonline.com – 10 Perupa kondang di antaranya Nasirun, Ong Hari Wahyu, Bambang Herras, Yoseph Wiyono, Bartimus Yayan, Heti Palestina, Loli Rusman, Surajiyo, Nung Bonham, dan Watie Respati akan baca puisi pada Sastra Bulan Purnama (SBP), Senin (25/1) malam. Bertajuk ‘Rupa Puisi Perupa’ para pelukis itu mencoba menuangkan kata-kata di luar goresan sapuan cat minyak.

“Saya memang bergerak di visual art, tetapi sejak tahun 1980-an saya sudah berinteraksi dengan sastra dan masuk dalam pergaulan sastrawan angkatan tahun 1980-an. Karena pada tahun itu, suasana tahun 1970-an,  interaksi antara pelukis dan penyair masih kuat”, ujar Ong Hari Wahyu, yang ditemui Melayuonline, Selasa (19/1) di Tembi. Puisi-puisi Ong Hari Wahyu dan puisi Bambang Herras, selain akan dibacakan, juga akan diolah menjadi lagu oleh Sri Krishna, yang lebih dikenal dengan nama Encik.

“Dalam pergaulan kesenian di Yogya, musik, seni rupa, dan sastra tak bisa dipisahkan, bahkan dalam pertumbuhan kesenian di Yogya, ketiga jenis kesenian itu saling mengisi dan menguatkan,” kata Bambang Herras.

Ons Untoro, Koordinator SBP mengatakan bahwa para perupa yang tampil membacakan puisi karyanya ini sudah tidak asing di dunia sastra, karena selain menghasilkan karya seni rupa, mereka juga menulis puisi, meskipun puisinya seringkali dicoretkan pada kanvas.

“Kita sering melihat, pada karya seni rupa yang mereka hasilkan di kanvasnya ada coretan-coretan kata yang memberi suasana puitis, kata Ons Untoro.

Yoseph Wiyono, seorang perupa dan pengajar di Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, yang mengkoordinasikan para perupa yang akan tampil mengatakan, dari sejumlah perupa yang dihubungi cukup banyak yang sanggup untuk ikut, tetapi sampai batas waktu yang ditentukan, hanya terkumpul 10 perupa.

“Saya kira, 10 perupa yang ikut tampil di Sastra Bulan Purnama ini sudah bisa mewakili dari kalangan perupa lainnya,” ujar Yoseph Wiyono.

Dijelaskan oleh Wiyono, dalam pertunjukan sastra ini, rencananya para perupa yang tampil akan memajang karya-karya sekaligus sebagai background. “Dalam berkarya sastra para perupa tidak bisa melupakan hasil karya seni rupa”, ujar Wiyono memberikan alasan * (Teguh R Asmara).


Dibaca : 1.015 kali.

Tuliskan komentar Anda !