Selasa, 18 Agustus 2026 |Arbia', 4 Rab. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 145
Hari ini
:
6.569
Kemarin
:
22.556
Minggu kemarin
:
179.363
Bulan kemarin
:
11.454.048
Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
15 februari 2016 03:02
Peluncuran Dongeng Negeri Kita: Dongeng adalah Budaya Transformasi Nilai
Para pembahas Dongeng Negeri Kita dari kiri Laora, Yuswadi, Faruk, dan moderator Herry Mardianto (Foto: Trasmara)
Yogyakarta, Melayuonline.com – Buku Dongeng Negeri Kita diperuntukan bagi orang dewasa dan disebarkan ke Perguruan Tinggi baik dalam negeri maupun luar negeri. Buku ini dimaksudkan sebagai bacaan orang dewasa yangnantinya disebarkan kepada anak-anak dalam mendongeng. Dongeng Negeri Kita yang diterbitkan oleh Lembaga Seni dan Sastra (LSS) Reboeng dipersiapkan selama 1,5 tahun.
“Buku ini terdiri dua bahasa yakni Indonesia dan Inggris, berisi 30 dongeng dari berbagai daerah di Indonesia dan ditulis oleh 30 penulis dari daerah asal. Buku ini memang bernuansa sastra, sangat berbeda dengan buku-buku dongeng lainnya,” kata Nana Ernawati, Pimpinan LSS Reboeng yang ditemui Melayuonline, sebelum peluncuran di Balai Bahasa Yogyakarta, Sabtu (13/2) pagi.
Dongeng Negeri Kita diambil antara lain dari daerah Papua Barat, Halmahera, Gorontalo, Mandar, Toraja, Lombok, Madura, Betawi, Riau, DIY, Jateng, Aceh, Jambi, Lampung,Bali, dan lain-lain. Untuk terjemahan bahasa Inggris dilakukan oleh Landung Simatupang dan A. Yadhi Satiyoko. “Mas Landung dalam menerjemahkan banyak memaparkan nilai-nilai sastra. Jadi bukan terjemahan biasa,” ujar Nana.
Dalam peluncurannya, buku ini dibahas oleh Prof. Dr. Faruk Tripoli, SU, Ir. Yuswadi Saliya, M, Arch, dan Laora Arkeman. Seperti dikatakan Laora, dongeng bukanlah sejarah tapi menjadi bagian dari sejarah manusia. Bagian dari identitas anak jaman yang terus berubah. Melalui dongeng seseorang bisa menurunkan cerita dari nenek moyangnya yang berupa hikayat, mitos, atau legenda. “Tujuan dongeng itu biasanya sama, mengajarkan nilai-nilai kepada generasi selanjutnya, bagaimana membedakan benar dan salah, baik dan buruk,” papar Laora.
Sementara Yuswadi menilai dongeng merupakan satu budaya dan bisa menjadi panduan apa yang sedang terjadi karena dongeng tidak lahir di ruang hampa. Berbeda dengan Faruk yang cenderung menganggapdongeng sebagai rekayasa dalam menghadapi perubahan. “Mungkin, dongeng merupakan rekayasa untuk melawan globalisasi,”ujarnya. Dalam konteks inilah Faruk mempertanyakan dongeng tak masuk akal seperti kancil mencuri timun, padahal kancil tidak suka timun.
Peluncuran buku Dongeng Negeri Kita setebal 600 halaman itu ditandai dengan pemberian buku kepada Kepala Balai Bahasa Yogyakarta Tirto Suwondo dan para pembahas. Buku diberikan oleh Nana Ernawati Pimpinan LSS Reboeng. Disamping itu, beberapa guru dari SMA yang dipilih juga mendapatkannya. *(Teguh R Asmara)