Senin, 15 Juni 2026   |   Tsulasa', 29 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 935
Hari ini : 13.551
Kemarin : 19.032
Minggu kemarin : 184.896
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

23 juni 2016 12:36

Jegheh: Persembahan Musik Melayu dari dalam Kalbu

Melayuonline, Yogyakarta – Penyajian tugas akhir etnomusikologi pada Rabu (22/06) malam di gedung teater arena kampus ISI Yogyakarta jalan Parangtritis km. 6,5, Sewon Bantul memukau para penonton yang hadir. Tiga penyaji menampilkan karya musik etnis terbaiknya demi melengkapi persyaratan untuk lulus dan menjadi sarjana di bidang seni dari kampus tersebut. Para penyaji tersebut adalah Stepanus Ardo dengan judul karya “Balale”, Jaeko dengan judul “Layang-layang”, dan Muhammad Syukri (Icud) dengan judul “Jegheh”.

Pertunjukan yang dimulai pukul 20.00 wib tersebut dibuka oleh “Balale” yang membuat penonton berdecak kagum dengan teknik main dan pukul alat musik seperti gamelan dan lain sebagainya. Selanjutnya penampilan “Layang-layang” juga tak kalah menariknya dengan memadukan alat musik tradisi dan modern membuat penonton antusias mendengankan alunan musik yang dihasilkan dari bebunyian sentuhan para pemusik tersebut.

Tampil pada urutan terakhir tak membuat “Jegheh” kehilangan perhatian dari penonton. Repertoar yang dimainkan oleh tiga orang serta menonjolkan karakter musik Melayu pada penampilannya ini seakan menghinoptis penonton hingga pada akhir pertunjukkannya. Sorak sorai tepukan dari penonton tak henti-hentinya terdengar, tampak juga penonton yang meneteskan air mata karena haru akan permainan musik yang digubah atau diciptakan oleh Muhammad ‘Icud’ Syukri tersebut.

Ditanya mengenai konsep penciptaan, Icud sapaan akrab Muhammad Syukri menjelaskan, “Jegheh” atau Jerih merupakan karya ciptanya yang terinspirasi dari rasa syukur memiliki seorang ibu yang sabar dan kuat menjalani hidup serta kuat menghadapi permasalahan yang ada. Juga terinspirasi dari dan sebagai bentuk persembahan kepada almarhum ayah, serta menjadikan motovasi agar terus berkarya dan berkarya.”

Dari deretan tempat duduk penonton, terlihat puluhan mahasiswa asal Riau dan Kepulauan Riau  yang turtut hadir menyaksikan sajian tersebut. Sajian yang hanya menggunakan alat musik biola, gambus dan rebana besar tersebut memberikan nuansa Melayu yang kental pada penampilan penutup ujian tugas akhir tersebut. Musik yang dilantunkan dari petikan gambus dan gesekan biola seolah membawa penonton ikut larut menjadi bagian dari irama serta turut merasakan apa yang menjadi konsep dan disuguhkan dalam irama Jegheh tersebut.

Tak lupa ucapan terimakasih diutarakan Icud kepada para pihak yang telah membantu. “Terima kasih sebesar-besarnya kepada para pihak yang telah membantu baik secara lansung maupun tidak langsung, mulai dari perlengkapan kostum, panggung dan lain-lain hingga terlaksananya pertunjukan tersebut dengan lancar. Terimakasih juga kepada mahasiswa dari Riau dan Kepulauan Riau di Yogyakarta serta kawan-kawan yang telah menyempatkan diri untuk hadir. Secara khusus saya ucapkan terima kasih terutama kepada bapak Raja Alfirafindra yang telah membantu dan menyediakan semua keperluan.” (boki koto)


Dibaca : 1.106 kali.

Tuliskan komentar Anda !