MelayuOnline.com, Yogyakarta– Puluhan mahasiswa dan mahasiswi Politeknik Kesehatan Bhakti Setya Indonesia (BSI) Yogyakarta belajar di Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) Yogyakarta, Selasa (16/8) lalu. Sebagai calon tenaga kerja siap pakai dan berpeluang besar bekerja di luar negeri, mereka merasa perlu mengenal Melayu baik sebagai sebuah rumpun, maupun bahasa dan budaya.
Kedatangan para mahasiswa dan mahasiswi tersebut terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama tiba sekitar jam 09.00 wib dan selesai mengikuti pemaparan materi pada jam 12.00 wib. sedangkan kelompok kedua tiba jam 13.00 wib dan selesai pada jam 16.00 wib.
Menurut Fadiya Yusuf, salah seorang dosen yang ikut mendampingi para mahasiswa tersebut, pengetahuan mengenai Melayu baik bahasa maupun kebudayaan diperlukan bagi para mahasiswa yang akan di wisuda pada bulan oktober ini untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Dengan disepakatinya persaingan bebas oleh para pemimpin negara-negara ASEAN, peluang kerja ke luar negeri semakin terbuka lebar. Tidak menutup kemungkinan nantinya para alumni Poltekes BSI Yogyakarta akan bekerja di Negara-negara misalnya Malaysia, Singapura, Brunei dan negara-negara ASEAN lainnya.
Pada kesempatan itu para akademisi bidang kesehatan tersebut juga diberi bekal untuk menghadapi MEA. Pemaparan mengenai MEA dipaparkan langsung oleh ketua sekaligus pendiri Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) Dato Mahyudin Al Mudra, SH., MM., MA. MAM, sapaan akrab beliau, memaparkan di antaranya mengenai peluang dan hambatan menghadapi MEA. Menurut MAM, MEA menjadi dua sisi mata uang bagi Indonesia. Satu sisi menjadi kesempatan yang baik bagi Indonesia untuk menunjukkan kualitas dan kuantitas produk serta SDM Indonesia kepada negara-negara lain, tetapi pada sisi lain dapat menjadi bumerang apabila Indonesia tidak dapat memanfaatkannya dengan baik.
Dari pemaparan mengenai peluang untuk dapat bekerja di luar negeri, tampak beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang berniat mencoba peruntungan untuk bekerja di Malaysia, salah satunya mahasiswa asal Lombok tengah Imam Bani M. Dia memiliki hasrat tinggi untuk mengejar prestasi di luar negeri.
Untuk itu pengetahuan mengenai bahasa dan budaya Melayu dirasa penting mengingat di Malaysia, Singapura, Brunei dan Patani Thailand Selatan bahasa resmi yang digunakan adalah bahasa Melayu, selain Inggris. Dengan mempelajari bahasa dan budaya Melayu tentunya komunikasi dan interaksi akan menjadi lebih baik dan mempermudah untuk dapat bersosialisasi dengan masyarakat setempat.
Dalam kesempatan yang berbeda sebelumnya, para mahasiswa ini juga telah dibekali pelajaran bahasa Inggris dan Mandarin. (bokikoto)