Close
 
Selasa, 19 Mei 2026   |   Arbia', 2 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 161
Kemarin : 25.387
Minggu kemarin : 249.195
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

10 sepember 2016 02:29

Nyallai Siwok, Tradisi Masyarakat Asli Lampung Barat

Lampung Barat - Salah satu tradisi atau adat masyarakat asli Lampung Barat, khususnya warga Lingkungan Kampungbaru, Pekon Wates, Kecamatan Balikbukit, nyallai siwok atau sangrai ketan. Sangrai ketan ini sendiri salah satu adat untuk muda-mudi yang akan melaksanakan angkat nikah.

Jika halnya ada bujang atau gadis akan melaksanakan akad nikah maka salah satu pedatong ataupun oleh-oleh sebelum atau sesudah nikah maka akan membawa siwok yang sudah di sangrai. Bahan ini terbuat dari gula merah dan ketan.

"Nantinya, siwok ini sendiri akan diberikan kepada kelama atau asal dari ibuk. Yang membuat babekhas ini adalah pihak perempuan. Sedangkan yang yang laki-laki jika melakukan sangrai siwok bunyinya kakilu, yakni untuk indai atau kawan akrab sang bujang," kata seorang Saibatin Pekon Wates Alimuddin, Jumat 9 September 2016.

Jika digali lebih dalam lagi sangrai ketan atau siwok ini, namanya banyak dan berbeda-beda. Tapi, seiring majunya perkembangan zaman adat sangrai siwok semakin menghilang.

"Kalau saat ini adat sangrai siwok ini semakin menghilang dan sudah semakin ringkas cara adat istiadatnya. Contoh kecilnya nikkuk atau cara menyajikan makanan dalam piring yang dibariskan itu juga sudah menghilang karena digantikan dengan persiapan di atas meja. Atau lebih dikenal dengan cara prancisan," kata dia.

Di lain pihak, Amroni juga mengakui jika adat istiadat dan budaya Lampung Barat ini sudah semakin pudar. "Jangankan sangrai ketan, tata cara saat pesta pernikahan saja sudah banyak hilang. Karena, biasanya tempat para saibatin atau tua-tua kampung saja dipisah dan tempatnya di kelasa atau paling depan di atas rumah," kata dia.

Tetapi, meskipun zaman semakin maju dan adat semakin memudar. Masyarakat masih banyak yang peduli dan tetap melestarikan budaya-budaya kecil, tapi mengandung banyak makna," kata Amroni.

Sumber: http://www.saibumi.com


Dibaca : 2.323 kali.

Tuliskan komentar Anda !