Close
 
Jumat, 17 April 2026   |   Sabtu, 29 Syawal 1447 H
Pengunjung Online : 6.530
Hari ini : 81.036
Kemarin : 36.578
Minggu kemarin : 249.242
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

23 sepember 2016 08:21

Mau Lihat Koleksi Naskah Kuno? Yuk ke Pameran Museum Aceh

Banda Aceh, NAD - Museum Aceh di bawah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) menggelar pameran temporer bertajuk ‘Naskah Kuno Warisan Intelektual, Tempo Dulu Orang Aceh Pintar’.

Pameran diselenggarakan selama tiga bulan dan memamerkan koleksi naskah kuno abad ke-16 dan 17.

 “Ada paradigma baru yang memandang bahwa museum tidak lagi hanya menjadi tempat barang antik, seperti anggapan masyarakat umumnya. Tetapi museum harus terus berusaha untuk menjadi tempat di mana pengunjung dapat merasakan sesuatu suasana berbeda yang  dapat dijumpai jika mereka berkunjung ke museum,” papar Kadisbuspar Aceh, Reza Fahlevi dalam kata sambutannya di Museum Aceh, Banda Aceh, Kamis (22/9/2016).

Menurut Reza, perkembangan inilah yang membuat museum berkembang menjadi tempat penelitian, komunikasi, dan rekreasi.

Pameran rutin kali ini membentangkan bukti sejarah kegemilangan Aceh tempo dulu.

Kerajaan Samudera Pase dan Kerajaan Aceh Darussalam adalah dua kerajaan Aceh yang mencapai kejayaannya dalam segala aspek.

Jejak cahaya Islam dua kerajaan memenuhi catatan intelektual yang lahir maupun yang singgah di Bumi Serambi Mekkah.

Kejayaan masa lalu mencapai puncaknya dalam rentang abad ke- 16 dan 17, khususnya pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636).

Kepala Museum Aceh, Junaidah Hasnawati menjelaskan koleksi yang dipamerkan berupa naskah kuno dan lukisan kalirafi.

Adapun materi yanng dipamerkan berjumlah 63 koleksi yang terdiri atas 48 naskah dan 15 kaligrafi.

Sementara koleksi yang dipamerkan merupakan karya –karya besar milik Hamzah Fansury, Syamsuddin As-Sumatrani, Nuruddin Ar-Raniry atau Abdulrauf As-Singkili.

“Tempo dulu Aceh pernah berjaya. Hal ini bisa dilihat dari karya-karya ulama yang merupakan ahli filsafat dan agama. Ditulis dalam bahasa Arab dan Melayu di atas kertas buatan Eropa. Pameran seperti ini penting agar generasi muda tahu sejarah dan penguatan identitas sebagai orang Aceh,” terang kolektor naskah kuno, Cek Midi.

Pameran temporer tersebut berlangsung mulai September – November mendatang. Pengunjung bisa datang setiap hari kerja, mulai pukul 8.30-16.00 WIB, kecuali Hari Senin tutup.

Beralamat di Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah, Peuniti, Banda Aceh pameran ini terbuka untuk umum.

Nah! Bagi anda pegiat sejarah dan budaya atau penikmat wisata heritage, tidak salah lagi memasukkan pameran  ini dalam daftar agenda.

Sumber: http://aceh.tribunnews.com


Dibaca : 4.641 kali.

Tuliskan komentar Anda !