Close
 
Kamis, 17 Agustus 2017   |   Jum'ah, 24 Dzulqaidah 1438 H
Pengunjung Online : 3.399
Hari ini : 25.527
Kemarin : 34.114
Minggu kemarin : 225.915
Bulan kemarin : 10.532.438
Anda pengunjung ke 103.005.986
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

02 januari 2017 04:20

Interior Bandara Supadio: Kombinasi Melayu, Dayak, dan China

Pontianak, Kalbar - Pembangunan Bandar Udara Internasional Supadio sudah mencapai 83,6%. Saat ini bandara tersebut masih dalam tahap finalisasi dengan cara mempercantik dengan merenovasi beberapa bagian lagi.

Chief PMU AP II Cabang Supadio, Chuanda mengatakan nantinya desain bandara ini menggabungkan tiga ornamen etnis budaya lokal. Sebab di Kalimantan Barat masyarakatnya terdiri dari beberapa etnis budaya lokal seperti Dayak, Melayu, dan China.

"Konteks budaya lokal pasti kita libatkan, komponen dari artefak lokal, kultur hal-hal yang berkaitan dengan unsur budaya lokal ada Dayak, Melayu, dan China interior kita kombinasikan," kata Chuanda, saat ditemui di lokasi, Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (30/12/2016).

Memang di beberapa kabupaten Kalbar didominasi beberapa mayoritas budaya. Misalnya di kabupaten Landak dan Entikong mayoritas ditinggali oleh etnis Dayak, Singkawang lebih banyak dihuni etnis China, dam Sambas dihuni etnis Melayu sehingga ketiga etnis tersebut dikombinasikan dalam interior bandara.

"Karena penduduknya itu sebagian dari 3 etnis itu. Pesan Pemprov supaya aspek budaya juga masuk ke dalam desain bandara karena tidak meninggalkan budaya lokal," imbuhnya.

Beberapa tim interior dan konsultan independen saat ini sedang memulai beberapa desain corak tersebut. Ditargetkan pada April atau Mei 2017 interior tersebut telah selesai interior yang akan mempercantik bandara tersebut.

"Nanti ada corak-corak hiasan di dinding ornamen gabungan dari 3 kultur itu di desain dari konsultan yang menjadi ciri khas Kalbar. Saat ini sudah mulai interior, lagi soft drawing dan finalisasi detailnya, diharapkan selesai April atau Mei," imbuhnya.

Ia menyebut penerbangan di Pontianak ini paling ramai ketika ada hari raya natal, lebaran, tahun baru, dan hari raya China seperti Imlek, Cap Go Meh dan sembahyang kubur. Beberapa hari raya Tionghoa di luar Kalbar ini membuat beberapa etnis Tionghoa berziarah ke makam leluhurnya.

"Pontianak itu tanggal 23 natal kemarin puncaknya, kalau dari Jakarta ke Pontianak ada upacara sembayang kubur, imlek, karena di sini tradisinya banyak," imbuhnya.

Sumber: https://finance.detik.com


Dibaca : 773 kali.

Tuliskan komentar Anda !