Close
 
Jumat, 15 Desember 2017   |   Sabtu, 26 Rab. Awal 1439 H
Pengunjung Online : 4.600
Hari ini : 41.922
Kemarin : 39.723
Minggu kemarin : 293.952
Bulan kemarin : 5.609.877
Anda pengunjung ke 103.962.523
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

24 januari 2017 03:50

Zuriat Kerajaan Riau-Lingga Ingin Luruskan Sejarah


Masjid Sultan Riau

Tanjungpinang, Kepri - Raja Muhammad Said Bin Engku Lok (65) salah seorang zuriat, Keturanan Sultan Abdul Rahmasnsyah Kedua, dan turunan dari Raja Ali Kelana, Kerajaan Riau-Lingga ingin meluruskan sejarah, garis keturunan kerajaan yang pernah berkuasa di zamanya, sebelum berhijrah ke Singapura pada tahun 1911.

"Tujuan utama kita adalah untuk melestarikan peninggalan dari apa yang telah diwariskan, sehingga jika dibantu oleh pemerintah Indonesia serta semua pihak, tentu kita dapat bekerjasama untuk meluruskan sejarah garis keturunan kerajaan Riau-Lingga yang sebenarnya," kata Muhammad Said warga negara Singapura didampingi kerabatnya Raja Muhammad Khalik Bin Raja Adnan waris keturunan yang dipertuan muda Riau serta kuasa hukumnya, Iwan Kurniawan SH MH Msi dan Rusmadi SH, pada sejumlah media, Minggu (22/1).

Menurut Muhammad Said, salah satu peninggalan sejarah kerajaan Riau-Lingga menyangkut Pulau Sore dan Pulau Basing yang sudah dirampas oleh pihak yang merasa memiliki, hingga dirinya digugat sampai ke Konsulat RI di Singapura yang menurutnya hanya atas rekayasa.

"Saya memiliki data yang autentik tentang kedua Pulau tersebut, namun kalau mereka yang merasa memiliki pulau itu dan ingin memperbaiki hubungan baik dengan dirinya, saya siap menerimanya," ucapnya. Dikatakan dia, apa yang dikatakannya tersebut merupakan suatu amanah atau wasiat dari leluhurnya terdahulu.

"Itulah yang saya ibaratkan, ada api di dalam sekam". Mereka di depan saya berbaik hati dan menganggap biasa saja, namun di belakang saya mereka bayak mengumpat dengan berbagai perkataan yang tidak bisa saya mengerti," ungkap Said.

Ia mengakui selama ini ada pertalian persaudaraan dengan pihak terkait,  namun tidak ada pertalian kekerabatan dari garis lurus keturunan leluhurnya terdahulu.

"Arti kata, kalau tidak ada dalam kekarabatan itu, seolah-olah warga mereka itu sama dan sederajat dengan garis keturunan leluhurnya. Padahal itu sangat jauh perbedaan pertaliannya. Artinya, anak ayam itu tetap jadi anak ayam. Masak ada anak ayam mau menjadi Merak? Mustahilkan," ungkap Said.

Said juga menyampaikan kekecewaannya selama ini terhadap pandangan sebagian orang yang menganggapnya sebagai orang asing, karena memiliki warga negara Singapura, sehingga ia merasa terkucilkan dan terabaikan dalam ikatan kekerabatan dari garis keturunan yang sebenarnya.

"Bagi saya, saya bukan warga negara asing, karena apa yang telah diwariskan oleh leluhurnya terdahulu merupakan suatu bukti, bahwa asal-usulnya dari negeri yang pernah ditaklukan oleh leluhurnya terdahulu dan satu garis keturunan dengan Keturanan Sultan Abdul Rahmansyah Kedua, dan turunan dari Raja Ali Kelana," ujarnya.

Ketika ditanya, apakah dia bersedia menjadi warga negara Indonesia jika memang menjadi salah satu persyaratan, maka ia mengaku siap bersama istri untuk pindah warga negera dan tinggal di daerah ini.

"Hal itu sudah saya pikirkan sejak 40 tahun lalu. Arti kata, kepindahan kewarga negaraan saya itu, bukan saya tamak akan harta keturunan, melainkan ingin melestarikan peninggalan sejarah yang terabaikan bersama-sama warga negara Indonesia," ungkapnya.

Sumber: http://www.haluankepri.com
Dibaca : 1.168 kali.

Tuliskan komentar Anda !