Selasa, 19 Mei 2026   |   Arbia', 2 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 1.608
Hari ini : 20.378
Kemarin : 19.896
Minggu kemarin : 249.195
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

14 februari 2007 01:44

Bahasa Melayu Sudah Modern sejak Abad Ke-16

Bahasa Melayu telah memasuki fase modern sejak abad ke-16, bersamaan dengan fase modern bahasa Inggris. Dengan demikian, sejarah bahasa Indonesia yang identik dengan bahasa Melayu bukan dimulai pada Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928.

James T Collins, guru besar linguistik dari Universitas Kebangsaan Malaysia, mengemukakan hal itu dalam seminar "The Development of Indonesian Toward the Future" di Kampus Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya, Jakarta, Senin (23/2/2004). Pada seminar memperingati ulang tahun ke-75 Anton M Moeliono itu, juga hadir pembicara James N Sneddon (Universitas Griffith, Australia), A Chaedar Alwasilah (Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung), dan Soenjono Dardjowidjojo (Unika Atma Jaya). Pada kesempatan itu, Anton menerima buku Menabur Benih Menuai Kasih, sebagai persembahan dari Unika Atma Jaya.

Menurut Collins, anggapan bahwa sejarah bahasa Indonesia dimulai pada tahun 1928 terlalu meremehkan bahasa Indonesia. Itu seolah menunjukkan bahwa bahasa Indonesia hanya semacam bahasa Esperanto atau bahasa yang dibikin-bikin.

Ia menjelaskan bahwa bahasa Indonesia dengan bahasa Melayu merupakan bahasa yang sama, yang terus berinteraksi hingga saat ini dengan identitas masing-masing.

Fase modern

Collins menggunakan beberapa parameter yang digunakan pada bahasa Inggris untuk menunjukkan bahwa bahasa Melayu telah memasuki fase modern sejak abad ke-16. Pada masa itu, bahasa Inggris mengalami penambahan kata-kata serapan yang sangat besar jumlahnya, terutama bahasa kesarjanaan dari bahasa Latin, dan beberapa bahasa lainnya. Pada bahasa Melayu kata-kata serapannya berasal dari bahasa Arab, yang merupakan bahasa kesarjanaan yang sangat tinggi nilainya pada waktu itu.

Pada abad ke-16 itu, seiring dengan perkembangan yang luar biasa dalam bidang sastra, banyak sekali karya sastra asing yang diterjemahkan ke bahasa Inggris, terutama dari Perancis dan Latin. Sementara pada bahasa Melayu juga terjadi penerjemahan karya-karya dari bahasa Arab, Parsi, Hindi, dan Portugis.

Bahasa Inggris sudah mulai digunakan pada bidang-bidang yang baru, misalnya untuk teknologi dan perdebatan-perdebatan antara sekte agama. Bahasa Melayu pun, pada masa yang sama, digunakan dalam penyebaran agama Islam dan Kristen.

Ciri lainnya, kata Collins, adalah pembakuan ejaan bahasa Inggris yang seterusnya digunakan sebagai bahasa Inggris standar hingga kini. "Pada saat yang sama, perkembangan bahasa Melayu juga memperlihatkan tanda-tanda bahasa standar," ujarnya.

Dalam hal periodisasi itu, Sneddon berbeda pendapat dengan Collins. Kepala School of Languanges and Linguistics pada Universitas Griffith itu tetap mengakui bahwa bahasa Melayu baru memasuki fase modern pada abad ke-20. "Memang 2-3 abad lalu kesusastraan sudah berkembang, namun belum ada bahasa yang dianggap standar atau resmi. Bahasa Melayu atau bahasa Indonesia yang baku baru ada pada abad ke-20," tuturnya. (LAM)


Sumber :

Kompas


Dibaca : 2.325 kali.

Tuliskan komentar Anda !