Close
 
Rabu, 1 Oktober 2014   |   Khamis, 6 Dzulhijah 1435 H
Pengunjung Online : 408
Hari ini : 21.923
Kemarin : 27.374
Minggu kemarin : 241.277
Bulan kemarin : 677.761
Anda pengunjung ke 97.176.754
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

10 november 2007 01:13

Tokoh Adat Dukung Nosarara Nosabatutu Diperdakan

Palu, Sulawesi Tengah- Wacana mendorong semboyan Nosarara Nosabatutu untuk dibuatkan dalam Peraturan Daerah (Perda), mendapat tanggapan positif dari tokoh adat di Kota Palu. Ketua Dewan Adat Tanamodindi, H Tuwu Kau, mengungkapkan dukungannya bila Nosasara Nosabatutu disahkan sebagai semboyan Kota Palu melalui Perda.

Ditemui di kediamannya Kamis malam (8/11) lalu, Tuwu menjelaskan Nosarara Nasabatutu yang disepakati sebagai bersaudara dan bersatu itu sangat besar maknanya. Saking luasnya Tuwu mensejajarkan dengan Bhineka Tunggal Ika, semboyan bangsa Indonesia.

"Nosarara Nosabatutu itu sangat luas maknanya dan saya yakin mampu menyatukan warga Palu dalam hidup bermasyarakat sama seperti Bhineka Tunggal Ika, yang menyatukan seluruh rakyat Indonesia," ujarnya.

Tuwu, menjelaskan selain makna yang luas, dengan diperdakannya Nosarara Nosabatutu justru akan mematenkan semboyan tersebut.

Tuwu, mengaku tidak ingin jika pergantian tampuk kepemimpinan di Kota Palu nantinya beralih, maka Nosarara Nosabatutu akan terancam eksistensinya. Olehnya, Tuwu, mengaku sangat setuju jika para anggota dewan tidak sungkan untuk membuat Perda yang mematenkan semboyan Nosarara Nosabatutu.

Terpisah, Ketua Umum PDK Kosgoro 1957 dan KB Pemuda Justitia Kota Palu Muhammad J Wartabone SSos SH, mengakui saat ini pihaknya tengah mendorong semboyan Nosarara Nosabatutu untuk diperdakan.

"Setelah melalui beberapa proses, saat ini kami mendorong agar Nosarara Nosabatutu dibuatkan dalam sebuah aturan Perda. Mengingat Nosarara Nosabatutu ini diangkat dari akar nilai budaya Kaili,"ujar alumni Pondok Pesantren Daruttauhid Malang itu.

Lebih lanjut, Wartabone, menjelaskan perjuangan pihaknya menjadikan Nosarara Nosabatutu sebagai semboyan telah melalui beberapa proses tahapan. Pertama pihaknya melalukan kajian akademis untuk menghasilkan rumusan akademis perihal arti harfiah Nosarara Nosabatutu dalam penggunaan Bahasa Indonesia.

Kajian akademis tersebut dilakukan oleh beberapa pakar dan guru besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), serta beberapa pihak yang masuk dalam tim perumus Nosarara Nosabatutu. Para tim perumus tersebut adalah Drs H Adjimin Panulele (Ketua), Drs Hj Nurhayati Ponulele MS (Wakil Ketua I), Prof Dr Juraid Abdul Latief MHum (Wakil Ketua II), Muhammad J Wartabone (Sekteraris), Drs Tjato TS Al Idrus, Drs Haliadi MHUm, Drs Iskandar MHUm, Rtana Dewi Petalolo, Revi Arifin Passau, Ashar Yotomaruangi SSos, dan Sahdin Abd Ramhat SH.

Tahap kedua, jelas Wartabone pihaknya melaksanakan seminar yang membahas rumusan akademik. Pada seminar itu menghasilkan persetujuan bahwa Nosarara Nosabatutu dimaknai sebagai bersaudara dan bersatu. Dari seminar itu juga, menurut Wartabone, tengah disusun buku panduannya.

"Selagi menunggu buku panduan rampung, kami terus mensosialisasikan nilai-nilai Nosarara Nosabatutu di tengah masyarakat. Sebagai contoh saat ini di kelurahan Nunu sudah berdiri tugu Nosarara Nosabatutu," paparnya.

Wartabone yang juga merupakan Ketua Partai Golkar Palu Selatan itu, lantas menjelaskan kerja keras pihaknya mengangkat nilai-nilai budaya lokal Palu, semata-mata ditujukan untuk kemaslahatan warga Palu. Pasalnya menurutnya saat ini warga Palu memerlukan sebuah semboyan yang berasal langsung akar budaya, sebagai pemersatu warga dalam bermasyarakat.

"Ini merupakan sebuah bentuk perhatian dan sumbangsih kami sebagai organisasi yang tumbuh dan hidup di tengah masyarakat. Semoga kerja keras kami ini dapat memberikan dampak positif bagi kehidupan warga Palu," tandasnya.

Sumber: www.radarsulteng.com


Dibaca : 1.803 kali.

Tuliskan komentar Anda !