Close
 
Sabtu, 16 Mei 2026   |   Ahad, 29 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 344
Hari ini : 15.465
Kemarin : 31.324
Minggu kemarin : 249.195
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

19 mei 2007 08:25

Pelajaran Arab Melayu Menjadi Muatan Lokal di Pontianak

Pontianak-  Wacana agar pelajaran Arab Melayu dijadikan muatan lokal di tingkatan sekolah, diseriusi berbagai pihak. Abdul Hamid salah satunya, Guru Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Thalbiyah Rantau Panjang Sambas ini menyatakan bahwa hingga saat ini baca tulis Arab Melayu telah diajarkan di sekolahnya.

"Namun pelajarannya masih belum terpola dengan baik dikarenakan belum adanya buku yang dapat dijadikan standar/acuan dalam pembelajarannya," katanya kemarin.

Menurutnya, ada hal-hal positif dari pengajaran Arab Melayu bagi siswa. Manfaat yang pertama ialah untuk mempermudah siswa membaca Alquran. Dikarenakan, huruf-huruf Arab Melayu merupakan adopsi dari huruf Hijaiyah yang berjumlah 29, ditambah dengan 6 huruf gubahan khas Melayu.

Manfaat yang kedua bagi masyarakat Melayu sendiri, pelajaran Arab Melayu merupakan sesuatu yang langka, yang hanya dipelajari oleh siswa-siswa Sekolah Rakyat (zaman Kolonial).

"Karenanya, jika memang pelajaran baca tulis Arab Melayu dijadikan muatan lokal di sekolah, saya sangat setuju sekali," kata Abdul Hamid yang kesehariannya menulis dengan tulisan Arab Melayu ini.

Sebelumnya, Ketua Yayasan Pesisir, Mul`am Husairi, mengatakan bahwa lembaganya telah bekerja sama dengan STAIN Press menerbitkan buku pelajaran Arab Melayu guna menyukseskan pendidikan tersebut.

Buku yang berjudul "Pandai Berbahasa Arab Melayu" ini sudah dicetak untuk dijadikan sampel. "Dalam buku ini, masyarakat bisa mengenal huruf Arab Melayu, ejaan dan cara menulisnya. Kita hanya mempersiapkan guna mendukung pemerintah melestarikan kebudayaan," ujar Abdul Hamid, didampingi penyusun buku Arab Melayu, Erwin Mahrus.

Sementara itu, Kadiv Humas Asrama Mahasiswa Sambas Pantai Utara, Nasaruddin, menyatakan bahwa pelestarian Arab Melayu disamping masuk dalam kurikulum mulok, juga dapat digunakan untuk tulisan pada plang nama jalan, kantor, rumah.

"Mungkin pihak yang peduli akan kelestarian Arab Melayu ataupun pemerintah bisa juga merilis buletin berbahasa Melayu seperti Cahaya Nusantara yang saat ini telah diterbitkan di Jakarta," katanya.

Abdul Hamid dan Nasaruddin menyambut baik rencana Yayasan Pesisir yang telah memprakarsai terbitnya buku panduan Berbahasa Arab Melayu. "Ini sebuah terobosan jitu bagi upaya memasyarakatkan Arab Melayu di bumi Khatulistiwa," kata Nasaruddin diamini Abdul Hamid.

Sumber : Pontianakpost.com


Dibaca : 3.291 kali.

Tuliskan komentar Anda !