Close
 
Rabu, 20 Mei 2026   |   Khamis, 3 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 304
Hari ini : 11.484
Kemarin : 25.387
Minggu kemarin : 249.195
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

09 januari 2008 06:14

Menlu Hassan Wirajuda: 2007, Dunia Lebih Baik

Menlu Hassan Wirajuda: 2007, Dunia Lebih Baik

Jakarta- Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda mengatakan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, pada 2007 dunia secara umum mengalami situasi yang lebih baik. Di bidang politik dan keamanan internasional kecenderungan penurunan ketegangan yang telah berlangsung sejak bulan-bulan terakhir tahun lalu diperkirakan akan berlanjut pada 2008.

Meski demikian, belum dapat dipastikan akan muncul solusi akhir untuk berbagai situasi konflik terutama di Irak, Afghanistan, dan Timur Tengah. "Di bidang politik dan keamanan, konflik-konflik besar cenderung menyusut, walaupun ketegangan dan kekerasan, seperti di Irak dan Afghanistan, terus berlangsung," ujar Wirajuda dalam "Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri RI: Kilas Balik 2007 dan Proyeksi 2008" di Jakarta, Selasa (8/1).

Wirajuda mencontohkan masalah proliferasi senjata pemusnah massal, khususnya isu nuklir Korea Utara dan Iran, telah meningkatkan ketegangan dalam politik internasional. Tetapi, keberhasilan Six Party Talks dalam mendorong denuklirisasi Korea Utara pada 2007 telah menggencarkan upaya internasional mencari solusi atas isu nuklir Iran.

Tentang konflik Arab-Israel, dia mengatakan konflik di kawasan tersebut cenderung mereda jika dibandingkan dengan konflik militer terbuka yang terjadi pada tahun sebelumnya. Perkembangan ini telah membuka peluang bagi upaya menghidupkan kembali proses perdamaian yang berujung pada Konferensi Annapolis, November 2007.

Sejumlah konflik internal di berbagai negara pada pertengahan 2007, terutama di Afrika, seperti Darfur di Sudan, Kongo, dan Sierra Leone, juga telah memuncak. Tetapi, upaya Uni Afrika bersama PBB telah berhasil meredam konflik-konflik tersebut walaupun belum secara tuntas.

Situasi kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur relatif aman dan damai dengan tidak ada konflik terbuka antarnegara. "Ketegangan politik yang berkaitan dengan isu demokrasi dan hak asasi manusia terjadi di Myanmar. Proses integrasi regional telah berkembang sangat dinamis," kata Wirajuda.

Diungkapkan, kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur yang dalam beberapa tahun belakangan ini tekun menata integrasi regional, telah menikmati stabilitas dan ketahanan regional. Sedangkan kawasan-kawasan lain, seperti Afrika, Timur Tengah, dan Asia Selatan, berada dalam situasi konflik atau ketegangan berkepanjangan.

Menurut Menlu RI, keberhasilan integrasi regional di Asia Tenggara dan Asia Timur akan bergantung pula pada upaya pembangunan politik yang dapat mempersempit kesenjangan politik di antara negara-negara kawasan.

Pelihara Stabilitas

Oleh karena itu, langkah-langkah kerja sama konkret untuk pembangunan politik di kawasan menjadi elemen penting dalam upaya memelihara stabilitas dan tertib kawasan.

"Dalam kaitan ini, pada 2008, Indonesia akan meluncurkan inisiatif Bali Democracy Forum sebagai ajang dialog antarpemerintah yang bersifat inklusif. Forum ini dirancang sebagai tempat bertukar pikiran dan pengalaman dalam menjalankan praktik-praktik demokrasi," kata Wirajuda.

Sebagai upaya mewujudkan demokrasi dan pemerintahan yang bersih, Indonesia pada 2008 juga akan menjadi tuan rumah Konferensi Antikorupsi (Conference of State Parties To The UN Convention Againts Corruptions) ke-2 yang akan diselenggarakan di Bali, 28 Januari-1 Februari 2008. Konferensi ini akan dihadiri 104 negara dan 50 peninjau.

Wirajuda mengatakan berbagai kemajuan yang telah dicapai setelah 10 tahun reformasi akan semakin melapangkan keleluasaan kiprah politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif ke segala penjuru.

Tentang perekonomian pada 2007, dikatakan ekonomi dunia cenderung menguat namun pada penghujung tahun perekonomian global tumbuh lambat. Hal itu, katanya, dipicu oleh skandal Subprime Mortgage di Amerika Serikat dan melambungnya harga minyak mentah hingga mencapai US$ 100 per barel.

Wirajuda mengatakan, perlambatan pertumbuhan laju ekonomi itu akan berimplikasi pada menurunnya volume perdagangan dunia serta melambannya laju pertumbuhan beberapa harga komoditi.

Walau perkembangan itu telah mengakibatkan goncangan pada pasar modal tetapi tidak terlalu besar pengaruhnya pada situasi ekonomi di kawasan Asia Timur, termasuk Indonesia.

Sebaliknya, beberapa negara Asia telah menjadi penyelamat dalam mengatasi krisis Subprime Mortgage. "Asia Tenggara dan Asia Timur tetap mengalami pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata dunia. Di ASEAN, Vietnam telah tumbuh 8,4 persen, Singapura 7,7 persen, Indonesia 6,3 persen, Malaysia 6 persen, dan Thailand 4,5 persen," katanya.

Sumber : www.suarapembaruan.com

Kredit foto : www.chinadaily.com.cn


Dibaca : 2.711 kali.

Tuliskan komentar Anda !