Minggu, 26 April 2026 |Isnain, 9 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 366
Hari ini
:
10.801
Kemarin
:
23.172
Minggu kemarin
:
7.342.256
Bulan kemarin
:
101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
25 maret 2007 07:27
Semakin Banyak Pelajar Sumut ke Singapura
Dalam dua tahun terakhir, jumlah pelajar asal Sumatera Utara yang melanjutkan pendidikannya di berbagai perguruan tinggi Singapura semakin banyak. Tawaran kerja setelah lulus kuliah dari pemerintah Singapura dan juga tawaran tinggal di negeri tersebut menjadi alasan utama mereka melanjutkan pendidikannya di Singapura. Hampir setiap tahun, berbagai institusi pendidikan tinggi Singapura menggelar pameran di berbagai kota di Sumut untuk menjaring minat calon mahasiswa.
Menurut Hastadi Muljo, Business Development Manager Synergy Learning Group, lembaga yang mewakili beberapa institusi pendidikan Singapura di Medan, dalam dua tahun terakhir, terjadi kecenderungan peningkatan jumlah pelajar asal Sumut yang melanjutkan pendidikannya di Singapura. Tahun 2005 tercatat sekitar 150 orang pelajar asal Sumut melanjutkan pendidikan di Singapura. Jumlah ini meningkat menjadi 250 orang pada tahun 2006. “Itu belum termasuk mereka yang mengurus sendiri untuk bisa sekolah di Singapura. Di lembaga saya saja, tahun lalu ada sekitar 150 orang yang mendaftar untuk melanjutkan kuliah mereka di Singapura,” kata Hastadi di Medan akhir pekan lalu.
Tingginya minat pelajar asal Sumut belajar di Singapura lanjut Hastadi karena tawaran kerja dari pemerintah Singapura setelah mereka lulus, terutama untuk yang belajar di institusi pendidikan milik pemerintah. “Mereka juga ditawari permanent residence (tempat tinggal tetap) di Singapura setelah kontrak kerja selama tiga tahun berakhir. Ini yang jadi salah satu faktor utama. Apalagi gaji pertama mereka minimal Rp 9 juta sesuai standar upah minimum di Singapura,” katanya.
Selain itu, fasilitas dan infrastruktur berbagai institusi pendidikan tinggi di Singapura, lanjut Hastadi, setara dengan sekolah-sekolah di Eropa. “Institusi pendidikan di Singapura punya kolaborasi dengan berbagai universitas terkemuka dunia. Ini yang membuat kualitas pendidikan di sana setara dengan universitas di Eropa maupun Amerika Serikat,” katanya.
Manager Planning and International Operation Republic Polytechnic Singapore, salah satu politeknik milik pemerintah Singapura, Christina Chan, mengatakan institusinya menjamin lulusannya bisa bekerja di institusi pemerintah Singapura mana pun. Republic Polytechnic, menurut Christina, juga membuka kesempatan yang sangat luas bagi mahasiswa Indonesia untuk mendapatkan bea siswa.
“Subsidi yang diberikan pemerintah Singapura sebesar 8000 Dolar Singapura (Rp 48 juta), sehingga mahasiswa dari Indonesia hanya membayar biaya pendidikan sebesar 3000 Dolar Singapura atau setara Rp 18 juta setahun. Biaya ini bisa terlunasi dengan hanya bekerja di Singapura selama dua tahun,” kata Christina.
Dia mengakui, jumlah pelajar Indonesia yang kuliah di Republic Polytechnic meningkat setiap tahunnya. Bidang-bidang rekayasa teknik dan teknologi komunikasi diminati pelajar asal Indonesia. “Biasanya yang susah justru di bidang pariwisata atau perhotelan. Karena rata-rata jurusan ini hanya diprioritaskan untuk warga negara Singapura,” katanya.
Sementara Manager Regional Projects Singapore Institute of Management (SIM) Pay Janet menuturkan, meski banyak sekolah bisnis bagus di Indonesia, namun minat mahasiswa asal Indonesia belajar di SIM cukup tinggi. Salah satu daya tariknya kata Janet adalah program dobel gelar dengan sekolah bisnis University of New York, Amerika Serikat.