Close
 
Sabtu, 2 Mei 2026   |   Ahad, 15 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 1.256
Hari ini : 18.083
Kemarin : 18.558
Minggu kemarin : 192.091
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

08 februari 2008 05:12

Enam Taman Nasional Indonesia Ikuti Kongres Cagar Biosfer di Spanyol

Enam Taman Nasional Indonesia Ikuti Kongres Cagar Biosfer di Spanyol
Taman Nasional Lore Lindu di Sulawesi Tengah

Madrid- Lima taman nasional (TN) di Indonesia, yakni Cibodas dengan kawasan intinya Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Taman Nasional Gunung Leuser di Sumatra Utara dan Aceh, Taman Nasional Siberut di Sumatra Barat, Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah, Taman Nasional Lore Lindu di Sulawesi Tengah dan Taman Nasional Komodo di NTT mengikuti kongres tentang Cagar Biosfer di Madrid, Spanyol.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Gede-Pangrango, Bambang Sukmananto yang mengikuti kegiatan itu dari Madrid, Spanyol, Kamis (7/2) sore menjelaskan kongres yang berlangsung sejak 2 Februari dan akan berakhir 9 Februari itu merupakan program MAB (Man and Biosfer) yang dibiayai oleh Badan PBB bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan (UNESCO).

"Kongres ini merupakan pertemuan para ahli di bidang Cagar Biosfer dari universitas, para pemerhati lingkungan (NGO) dan para praktisi seperti manajer Cagar Biosfer di seluruh dunia, ada kurang lebih 800 peserta yang mengikuti," katanya.

Ia menjelaskan, program MAB Indonesia diketuai oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), sedangkan wakilnya dari Departemen Kehutanan (Dephut), dimana enam taman nasional yang mengikuti kongres itu yang mewakilinya.

Dalam kongres tersebut, kata dia, yang dibicarakan secara umum adalah peran Cagar Biosfer terhadap konservasi, pembangunan berkelanjutan dan sebagai wilayah pendukung terhadap ekosistem, sehingga wacana yang dibahas sangat luas.

"Dan bagi Indonesia forum ini sangat penting karena selama hampir 30 tahun terakhir, kegiatan ini adalah kongres yang ketiga, disini kita dapat menyampaikan tentang ide-ide tentang konsep Cagar Biosfer tersebut melalui ketua dan wakil ketua MAB yang kebetulan juga sebagai anggota Dewan MAB UNESCO," katanya.

Sedangkan masukan praktis di lapangan, kata Bambang, disampaikan melalui forum-forum kelompok, yang dibagi-bagi dalam kelompok adat, forum gunung, hutan, kepulauan, padang pasir, laut , dan sebagainya.

"Yang kita tonjolkan adalah harus ada peran dari berbagai pihak dalam mendorong fungsi Cagar Biosfer untuk lebih bermanfaat bagi pembangunan berkelanjutan, disini juga dibahas tentang local government dalam membantu secara nyata terhadap fungsi Cagar Biosfer, karena tidak hanya tugas taman nasional untuk menjaga Cagar Biosfer, tapi kawasan sekitarnya menjadi sangat penting karena dampak pembagunan juga harus diperhatikan dengan seksama," katanya.

Taman Nasional Gede Pangrango, di Jawa Barat. berada di ketinggian 1.000-3.000 meter dari permukaan laut, mencakup wilayah Kabupaten Bogor, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Sukabumi.

Puncak Gunung Gede mempunyai suhu rata-rata 18 derajat Celcius. Tapi, di malam hari, suhu turun menjadi sekitar 5 derajat Celcius. Curah hujan di wilayah ini mencapai 3.600 mm/tahun. Gerbang utama menuju gunung ini adalah dari Cibodas dan Cipanas.

Gunung Gede mempunyai kawasan hutan dipterokarp bukit, hutan dipterokarp atas, hutan montane, dan hutan ericaceous atau hutan gunung. Keanekaragaman ekosistem di Gunung Gede terdiri dari ekosistem sub-montana, montana, sub-alpin, danau, rawa, dan savana.

Keadaan alam yang khas dan unik membuat Gunung Gede menjadi salah satu laboratorium alam yang menarik. Pada tahun 1819, CGC Reinwardt adalah pendaki pertama Gunung Gede. FW Junghuhn (1839-1861), JE Teysmann (1839), AR Wallace (1861), SH Koorders (1890), M Treub (1891), WM van Leeuen (1911), dan CGGJ van Steenis (1920-1952) tercatat menjadi pendaki berikutnya.

Mereka telah membuat koleksi tumbuhan sebagai dasar penyusunan buku The Mountain Flora of Java, diterbitkan tahun 1972.

Ada 251 jenis burung di kawasan Gunung Gede. Jumlah ini lebih dari 50 persen dari jumlah burung di Pulau Jawa yang mencapai 450 jenis. Di Gunung Gede masih bisa ditemukan elang jawa dan burung hantu yang tergolong langka. UNESCO menetapkan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sebagai Cagar Biosfer pada 1977. Pada 1995 menjadi sister park bagi Taman Negara di Malaysia.

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI Prof Dr Endang Sukara, akhir September tahun lalu, menyatakan penerapan konsep Cagar Biosfer di Indonesia dianggap sangat penting. Konsep ini dipercaya dapat mengharmonisasikan antara kepentingan sosial-ekonomi dan pemanfaatan sumber daya alam.

"Dengan kata lain, kita akan lebih mampu mengharmonisasikan kepentingan ekonomi dengan konservasi lingkungan hidup menuju pembangunan berkelanjutan,`` kata Endang Sukara, yang juga ketua panitia nasional MAB-UNESCO Indonesia.

Menurut dia, konsep ini sangat jelas didedikasikan untuk menyuburkan kegiatan ekonomi dan sosial, dengan melibatkan sebesar-besarnya partisipasi masyarakat sebagai sumber yang menjaga dan mempertahankan lingkungan hidup. Cagar Biosfer merupakan konsep yang dapat dijadikan model bagi Indonesia untuk menangani cepatnya laju degradasi lansekap ekosistem di Indonesia.

Ia menambahkan, tidak kurang dua juta hektare hutan hilang setiap tahunnya karena dikonversi untuk kepentingan pembangunan, dan kondisi itu berpengaruh signifikan dengan berkurangnya secara drastis keanekaragaman flora, fauna, ekosistem, dan lansekap di planet bumi, khususnya di Indonesia.

Kondisi itu, membuat Indonesia kehilangan kesempatan untuk mengungkap potensi dan manfaat keanekaragaman hayati. Padahal, sebenarnya pengetahuan dan penelitian bidang biologi molekuler di Indonesia telah memungkinkan untuk mengungkap potensi keanekaragaman hayati sebagai sumberdaya untuk bahan makanan, serat, dan bahan pakaian, obat-obatan, bahan mentah industri, serta bahan bangunan. Jika hal ini terus berlanjut kesejahteraan manusia akan terancam, kata Endang.

Sumber : Media Indonesia
Kredit foto : www.dephut.go.id


Dibaca : 3.631 kali.

Tuliskan komentar Anda !