Close
 
Rabu, 13 Mei 2026   |   Khamis, 26 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 888
Hari ini : 19.319
Kemarin : 33.274
Minggu kemarin : 209.627
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

09 februari 2008 07:51

Padukan Jazz dan Budaya Melayu

Padukan Jazz dan Budaya Melayu

Pekanbaru- Malacca Strait Jazz Grand Festival mengajak masyarakat lebih mengenal musik jazz yang memadukan unsur melayu sebagai ciri khas budaya Indonesia.

Sederet musikus jazz kenamaan Indonesia turut memeriahkan acara yang berlangsung pada 5–7 Juni 2008 mendatang di Pekanbaru, Riau, itu. Beberapa nama yang terlibat antara lain Rieka Roeslan, Henry Lamiri, Andien, Tompi, Tohpati, hingga Dewa Budjana. Menurut salah satu pemeriah acara Rieka Roeslan, kesempatan untuk tampil di Riau ini dimaksudkan sebagai ajang berbagi dengan masyarakat di sana.

”Selain berbagi pengalaman, juga untuk mendapat informasi soal perkembangan musik jazz yang ada di berbagai lapisan masyarakat, ”ungkapnya. Rieka menekankan, masyarakat harusnya lebih menyenangi dan lebih sering membawa lagu sendiri ketimbang lagu orang lain. ”Kehadiran saya di Riau ini juga bisa saling memberi masukan. Saya memberikan informasi yang saya punya, dan mereka memberikan input terhadap musik saya, ”ujar Rieka.

Mengisi di acara Malacca Strait Jazz Grand Festival ini dianggap Rieka bukan sebagai sesuatu yang bertentangan, mengingat event ini lebih kecil dari event jazz yang pernah diikutinya. ”Bukan masalah kecil atau besar, yang penting bagaimana kita bisa mengekspresikan diri dalam bermusik. Apalagi musik kali ini perpaduan antara jazz dan melayu, pastinya akan lebih menarik, ”paparnya.

Perpaduan itu, kata Rieka, tak sekadar dari unsur musiknya saja. Tapi juga tanggung jawab di dalamnya. Sebagai musikus, Rieka juga tidak ingin musik dikotak-kotakkan. Apalagi selama ini dia berusaha memenuhi keinginan masyarakat dalam bermusik. Baik itu untuk dirinya sendiri maupun untuk komersial.

”Saya selalu menulis lirik sesuai dengan keinginan hati saya. Berdasarkan pengalaman pribadi ataupun pengalaman orang lain. Karena kalau lirik dibuat dengan menjiwai, maka itu sama saja dengan mendoakan. Jadi ketika orang lain mendengarkan, mereka akan mengerti kalimat yang dimaksud, ”tandasnya pasti.

Pemilihan kota Riau sendiri sebagai tempat diadakannya acara tersebut lantaran Riau dianggap sebagai tempat strategi kebudayaan dengan akar budaya Melayu. Dengan adanya acara ini, diharapkan dapat membesarkan dan mengagungkan kebudayaan Melayu, khususnya Riau, dan umumnya masyarakat Indonesia. Menurut Gubernur Riau H M Rusli Zainal, masyarakat Riau menyambut dengan suka cita festival jazz yang sangat simbolik ini.Apalagi, hal ini bertepatan dengan momen Visit Indonesian Year 2008.

Sumber : www.seputar-indonesia.com
Kredit foto : www.malaccastraitjazzfestival.com


Dibaca : 2.354 kali.

Tuliskan komentar Anda !